Kepengurusan Baru PHRI KBB, Berharap Jangan Jadi Objek Tapi Sebagai Mitra Pemda

Ketua DPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) KBB, Eko Supriyanto. Foto/BANDUNGSATU.COM

BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM -Kepengurusan baru DPC Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung Barat akan bersinegri dengan pemerintah agar, pengusaha wisata anggota PHRI bisa berkembang.

Hal tersebut dikatakan Ketua DPC PHRI KBB, Eko supriyanto, Rabu (18/10) di Terminal Wisata Grafika Cikole,Lembang.

“Kita akan bersinergi dengan pemerintah, dengan stakeholder terkait, agar wisata khususnya perusahaan-perusahaan di sektor wisata anggota PHRI bisa berkembang, umumnya wisata di Kabupaten Bandung Barat, bisa berkembang,” kata Eko.

Ia juga mengatakan bahwa sinergi tersebut dilakukan berkaca dari pengalaman selama ini pengusaha wisata di KBB merasa hanya dijadikan objek.

“ya tadi sudah rekonsiliasi dengan pak PJ Bupati. Ada beberapa kejadian kami itu merasa dijadikan objek. Pak Pj Bupati akan memfasilitasi kami agar bisa bersinergi dengan dinas-dinas yang terkait. Agar tidak menjadi objek lagi dan bisa menjadi mitra,” jelas Eko.

Eko menjelaskan bahwa banyak event di Bandung Barat yang meminta dukungan pada PHRI, namun tidak ada feedback terhadap PHRI ataupun pengembangan wisata di Bandung Barat.

“Mereka minta dibiayai, namun saat kita butuh ya kita bayar,” kata Eko tertawa gelak.

Eko juga mengatakan bahwa untuk mengembangkan perusahaan wisata pihaknya akan menggelar pelatihan agar Sumber Daya Manusia (SDM) pekerja wisata memiliki standar yang sesuai dengan yang diharapkan.

“Tenaga kerja yang tersedia itu tidak sama levelnya. Oleh karenanya kami akan menggelar pelatihan seperti dulu, BLK (Balai Latihan Kerja, red) agar karyawan-karyawan yang berkerja di perusahaan anggota PHRI ini memiliki standar yang sama dengan Pemerintah,” ungkap Eko.

Eko juga mengatakan bahwa setelah Covid-19 belum ada kenaikan pengunjung. Namun demikian ia mengatakan bahwa di setiap usaha wisata beragam tingkat kunjungannya, tergantung inovasi, pelayanan, harga dan metode pemasarannya.

“Kalo setelah covid ini pengunjung tidak ada kenaikan, tapi kalau di setiap perusahaannya akan beragam, tergantung perusahaan itu baik, pelayanan baik, harga baik, pemasaran baik apa tidak,” imbuh Eko.

Pria yang juga pemiliki Objek Wisata Terminal Wisata Grafika Cikole, Lembang ini, juga mengungkapkan wacana adanya angkutan khusus wisata di daerah Lembang. Hanya saja Eko mengatakan bahwa saat ini hal tersebut masih dalam tahap pembahasan. Teknisnya masih harus digodog secara cermat agar berjalan dengan baik.

“Rute-rutenya ke obyek wisata. Baru ada tigaperusahaan yang bersedia dengan sitem ini. Tapi tidak tahu bagaimana modelnya bagaimana. Apa Grafika menyediakan hanya untuk Grafika saja, atau ditanggung renteng dan hasilnya dibagi. Nah ini perlu diobrolin mateng,” pungkas Eko. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *