BANDUNGSATU.COM – Panasnya persaingan menuju kursi Ketua Umum (Ketum) KONI Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang tinggal menyisakan tiga figur lagi usai verifikasi faktual oleh tim penjaringan, mendapatkan respons dari kalangan insan olahraga yang ada di KBB.
Pegiat olahraga yang juga mantan pengurus PBVSI KBB periode lalu, Bob Sofyan menilai, konstalasi persaingan ketum KONI KBB saat ini sangat luar biasa dinamis. Setiap calon terlihat ambisius untuk menduduki jabatan yang sangat populis dan dekat dengan kekuasaan tersebut.
Namun dirinya mengingatkan kejadian masa lalu yang harus jadi pelajaran bagi Ketum KONI KBB ke depan. Bagaimana pengurus KONI KBB harus berhadapan dengan hukum yang hingga saat ini belum selesai dan berpotensi kembali diungkap, akibat pengelolaan anggaran yang carut marut dan tidak transparan.
“Belum hilang dari ingatan bagaimana pengurus hingga atlet ada yang harus dipanggil oleh polisi akibat perbuatan yang sebenarnya mereka tidak lakukan. Itu mesti dicamkan bagi para calon, bahwa insan olahraha di KBB lebih ingin pemimpin yang berahlak daripada yang tinggi kedudukannya atau gelarnya mentereng,” ucapnya, Selasa (30/11/2021).
Dia mencontohkan, pada kepengurusan sebelumnya saat KONI KBB dijabat oleh anak bupati dan memiliki gelar pendidikan tinggi. Ketika hal itu tidak dibarengi dengan ahlak yang baik, kemampuan manajerial mumpuni, maka roda organisasi menjadi kacau. Oleh karena itu, pintar saja tidak cukup untuk bisa menjadi Ketum KONI di KBB.
“Kami semua ingin olahraga di KBB maju, dan itu bisa diraih jika Ketum KONI-nya berahlak baik, jujur, transparan dalam mengelola keuangan, perhatian ke cabor dan atlet, dan bisa bersinergis dengan semua kalangan. Itu bisa terwujud jika figur yang menjabat orang olahraga dan mengerti olahraga,” tegas Bob.
Sementara itu insan olahraga sepatu roda Jawa Barat asal Lembang, Thio Setiowekti menegaskan kedudukan Ketum KONI adalah jabatan serius dan bukan posisi coba-coba atau batu loncatan, apalagi jabatan ‘perselingkuhan’. Jangan hanya memanfaatkan kedudukan dan titel tinggi sehingga bisa merayu dukungan cabor.
Selaku pegiat olah raga yang telah lama berkiprah, dirinya bisa membaca karakter seperti yang dibutuhkan untuk memimpin KONI KBB ke depan. Apalagi banyak agenda penting yang harus dihadapi ketua KONI KBB terpilih, seperti Porprov tahun 2022 dimana KBB sebagai salah satu tuan rumahnya.
Menurutnya, karakter KBB itu berbeda, ketua KONI-nya harus warga KBB yang memahami seluk beluk masyarakatnya, atlet dan pengurusnya, bukan yang tiba-tiba datang, membeli rumah di KBB.
Semestinya figur yang lama berkecimpung di Jawa Barat, berkontestasi pada persaingan di KONI Jabar. Tapi ini justru memilih di KBB. Apa ada motif lain, ikut berkompetisi jadi Ketum KONI KBB, semisal jadi batu loncatan menuju Pilkada 2024.
“Juga karena KONI organisasi yang tidak bisa lepas dari APBD, maka perlu orang yang berintegritas agar tidak terjadi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di dalamnya,” kata pemilik sertifikat pelatih sepatu roda dari Porserosi Jabar ini. (*)
Editor : Rizki Nurhakim






