Harga Beras di KBB Sangat Tinggi Warga Menjerit, Pemda Tutup Mata

Tiga kecamatan di wilayah KBB terancam rawan pangan, setelah kemarau melanda kawasan Kecamatan, Saguling, Cihampelas dan Cililin. Foto/Istimewa

BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Selama sebulan ini harga beras di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Bandung Barat,tak kunjung turun dan menjadi keluhan serta menyebabkan warga menjerit, seharus Pemerintah Daerah Bandung Barat, melakukan upaya untuk menambah penyedian beras jangan terjadi kelangkaan serta menyebabkan harga beras tinggi. Hal ini ditambah oleh stok beras kiriman dari distributor yang dibatasi karena persediannya kian menipis.

Seharusnya Bulog sebagai penyedia cadangan pangan masyarakat, adanya kenaikan harga beras di wilayah KBB “gercep” dan langsung bulog harus turun tangan, tak lain untuk memperkuat cadangan beras dan diguyur ke pasar-pasar demi menstabilkam harga. Namun, hingga kini harga tak kunjung turun, seperti ada pembiaran dari Pemerintah Daerah.

“Ada yang datang ke pasar dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bandung Barat kesini, katanya mau ada beras murah dari bulog tapi ini sudah satu minggu engga ada,” ungkap salah satu pedagang beras di Pasar Tradisional Tagog Padalarabg, Daryana (63) saat ditemui awak media, Selasa (26/9).

Daryana mengatakan, secara rata-rata harga beras di sejumlah pasar tradisional saat ini untuk harga beras medium sudah tembus Rp13.000 per kilogram. Sementara untuk harga beras premium sudah mencapai di angka Rp15.000 per kilogram.

Harga beras tak kunjung turun, kata Daryana selain stok beras menipis dari distributor, musim kemarau panjang menjadi salah satu faktor harga beras terus melonjak dalam waktu satu bulan ini.

“Semula hanya naik Rp1.500, sekarang naik jadi Rp2.000. Pembeli pun berkurang, biasa konsumen beli beras 5-10 kilogram. Sekarang paling 2 kilogram,” katanya.

Menurut Daryana, salah satu solusi untuk menstabilkan harga beras, yaitu pemerintah harus segera turun tangan dengan memberikan harga beras murah melalui bulog.

“Harusnya udah diberikan, kalau daerah lain seperti Kota Cimahi yang saya lihat dari berita kan itu sudah mulai dilakukan. Kenapa kok Bandung Barat engga,” ujarnya.

“Waktu Covid-19 lagi ramai-ramainya memang kami sebagai pedagang sama kewalahan karena minim konsumen tapi engga separah seperti ini,” ungkapnya.

Sementara itu menurut, Wiwin (57) warga Desa Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pun mengeluhkan harga beras yang tak kunjung turun. Dirinya terpaksa harus membeli beras di pasar, pasalnya harga beras medium di warung mencapai Rp14.000.

“Biasa beli 3-4 kilogram, di warung mahal. Jadi milih beras di pasar, bedanya seribu rupiah. Lumayan buat beli kebutuhan pokok lainnya,” kata Wiwin.

Disinggung terkait pasar murah, Wiwin hanya bisa menunggu. Hanya, dia berharap Pemda Bandung Barat jangan tutup mata, segera menemukan solusi, paling tidak tegas Wiwin, operasi pasar murah segera dilaksanakan.

“Tahun lalu pernah ada pasar murah di Kecamatan Padalarang, dan harganya murah-murah. Mudah-mudahan bisa segera digelar pasar murah itu,” harapnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *