BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Krisis air bersih mulai melanda di beberapa titik wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), hal tersebut terjadi dari dampak kekeringan akibat kemarau panjang yang melanda Bandung Barat sangat ekstrem.
Seperti halnya yang dialami oleh warga Kampung Cibuntu RW.09 Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat mulai kelimpungan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari, karena sumber air seperti sumur gali dan sumur bor mulai kering setelah kemarau yang melanda wilayah Bandung Barat sangat panjang.
Warga yang berjumlah lebih dari 100 kepala keluarga setiap hari terpaksa ada yang harus membeli air bersih isi ulang dan ada yang mengambil di sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan cuci, mandi mereka. Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari 1 bulan terakhir.
“Satu hari saya harus membeli air galon isi ulang 10 galon, untuk keperluan dua hari, Harga satu kali isu ulang itu Rp5.000. Mau bagaimana lagi terpaksa membelinya, disini sudah tidak ada air,” keluh Yati Ida (45) salah satu warga Kampung Cibuntu kepada wartawan, Selasa (26/09).
Ia mengatakan, krisis air bersih ini membuat dirinya beserta warga lainnya kesulitan. Setidaknya dalam sebulan, Yati harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 500.00 – Rp 750.000 untuk membeli air.
Menurutnya, 10 air galon tersebut habis dalam waktu dua hari pemakaian untuk sehari-hari. Itupun, lanjutnya, pemakaian air bersih dilakukannya bersama keluarga dengan metode hemat. Di antara penggunaan air bersih tersebut untuk memasak, mencuci piring serta mandi.
“Paling habis 2 hari, dipakai hemat-hemat karena mahal. Mau tidak mau saya terpaksa memakai air galon,” ujarnya.
Menurut Yati, musim kemarau di tahun ini terbilang cukup parah. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sumur miliknya tak pernah surut, bahkan jika warga kesulitan air. Dirinya dengan senang hati memberikan secara cuma-cuma.
“Berbeda dengan musim kemarau tahun lalu, sekarang mah air di sumur kering. Musim kemarau sekarang saya pun sama terdampak,” katanya.
Selain Kecamatan Ngamprah, di wilayah Kecamatan Padalarang pun mulai mengalami hal serupa. Handayani (33) warga Kampung Sukamulya, Desa Padalarang mengalami krisis air bersih. Mereka terpaksa harus membeli air jerigen.
“Sudah satu setengah bulan mulai kesulitan air. Kita beli air secara udunan dengan warga lain, gatau satu tengkinya berapa. Hanya satu jerigen kami membayar Rp4.000,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini memaksa mereka mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan air bersih.
”Mau gimana lagi yah kan ini keperluan utama, jadi kami terpaksa membelinya meskipun agak lumayan mahal,” katanya.
“Saya sih berharap pemerintah bisa memberikan solusi, soalnya kan kekeringan sudah lama juga melanda di wilayah kami,” ungkapnya. (*)






