Warga Taman Bunga Cilame, Keluhkan Banjir yang Selalu Melanda tiap Tahun, Pernah Mengirim Surat untuk Mengkaji Ulang Amdal Eco Living yang Menyebabkan Banjir ke Pemda KBB “Tutup Mata”

Banjir yang melanda Perumahan Taman Bunga RW. 23 Desa Cilame Kecamatan Ngamprah, KBB, Sabtu (15/05). Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Hujan yang intensitasnya tinggi dan berlangsung lama mengakibatkan Perumahan Taman Bunga Cilame RW 23, Desa Cilame, Kec. Ngamprah, Bandung Barat, diterjang banjir.

Ketua RW 23 Desa Cilame, Sartono mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada pukul 15.30 WIB, Minggu (15/03) di wilayahnya.
“Banjir merendam 20 rumah warga,” kata Sartono

“Pada tanggal 15 Maret 2025, sekitar pukul 15.30 WIB terjadi hujan lebat di daerah Desa Cilame, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Sampai jelang berbuka puasa bahkan hujan masih turun,” imbuhnya.

Sartono mengatakan, hujan lebat tersebut menyebabkan saluran utama di Perumahan Taman Bunga RW 23 tersebut meluap dan mengakibatkan banjir.

“Selain itu Perumahan Taman Bunga RW 23 terletak di titik rendah sehingga seluruh muara air dari perkampungan seluruhnya melewati RW 23 Cilame,” jelas Sartono.

Sungai yang mengalir di wilayahnya, kata Sartono, berasal dari aliran di Kampung Cijamil, Galudra, Cibatu dan Mekarsari.

“Kemudian adanya pembangunan perumahan baru yang berdampingan dengan RW 23 Cilame yang belum selesai, diduga menyebabkan banjir di RW 23. Perumahan Eco Living Mekarsari tidak memiliki saluran yang baik dan tidak merespon apa yang menjadi tuntutan warga RW 23,” tegasnya.

Ia pun mengatakan, perbatasan dengan Perumahan Eco Living tersebut tidak memiliki dinding turap dan hanya dibatasi kemiringan tanah perbatasan.

Menurutnya banjir yang terjadi telah menyebabkan kerugian material, 9 rumah terdampak banjir yang paling parah, yaitu 5 rumah di RT 03 dan 4 rumah di RT 12. Sementara jumlah total rumah yang terkena banjir ada 20 unit.

Ia juga mengatakan sejumlah fasilitas umum di wilayahnya pun terkena banji. Ia menyebut saluran utama roboh, lapangan volly ball terendam dan posyandu roboh. Imbas bencana tersebut kerugian diperkirakan di kisaran ratusan juta rupiah.

Sartono sendiri mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut pada Pemerintah Daerah KBB, Kades Cilame, Camat dan dinas terkait.

“Banjir yang terjadi di Perumahan Taman Bunga Cilame RW 23 sering terjadi dan Pengurus RW sudah melaporkan setiap kejadian tersebut kepada Pemerintah Desa Kecamatan dan Pemkab KBB,” ungkap Sartono

“Kerugian yang dialami terendamnya 20 unit rumah warga dan menambah parahnya kerusakan saluran dan turap di wilayah RW 23. Tak hanya itu perumahan Eco Living sampai saat ini tidak ada tindakan nyata untuk perbaikan kerusakan yang ada di RW. 23,” imbuhnya.

Sartono menegaskan perlunya dilakukan upaya pencegahan banjir, seperti pembangunan sistem drainase dan pengelolaan aliran air ia juga berharap digelar pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi bencana, seperti banjir.
“Perlu dilakukan evaluasi dan analisis tentang penyebab banjir dan dampaknya. Apabila ada pengembang yang nakal dan tidak peduli dengan sekitarnya agar ijinnya dicabut,” kata Sartono.

Ia juga mengaku bahwa pada kejadian sebelumnya, Kepala Desa Cilame pernah mempertemukan manajemen Eco Living bersama warga Perum Taman Bunga dan disepakati bahwa manajemen Eco Living akan melakukan beberapa perbaikan, namun tidak tuntas.

“Kemudian pernah ada musyawarah antara Eco living dengan warga Perum. Taman Bunga di Kantor RW 23 Perum. Taman Bunga tanpa kehadiran Kepala Desa. Intinya Mamajemen Eco living akan melakukan tindakan perbaikan sesuai beberapa tuntutan warga Taman Bunga, tapi tidak ada kejelsan realisasinya,” ungkapnya.

“Untuk itu Kepala Desa pernah mengirim surat ke DLH guna melakukan evaluasi AMDAL terhadap Pembangunan Eco Living, tetapi tidak ada tanggapan. Dengan demikian, Kepala Desa akan melapor ke Bapak Bupati agar dapat meninjau ulang AMDAL Eco Living,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *