BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Pada Hari Ulang Tahun Lalu Lintas yang akan digelar 22 September mendatang, Satlantas Polres Cimahi akan memberikan Local Hero Award. Sebuah penghargaan yang diberikan pada masyarakat yang menjadi relawan pengatur lalu lintas.
Hal itu disampaikan Kasatlantas Polres Cimahi, AKP Adhi Prasidya Danahiswara. Di wilayah hukum Polres Cimahi, penghargaan diberikan pada penjaga lintasan pintu rel kereta api di Kampung Sumur Bor Desa Cilame Kecamatan Ngamprah.
”Kita mencari ’pahlawan’ yang di Cimahi itu siapa dalam berlalu lintas. Kemudian kami punya saran, akhirnya kami dapat penjaga palang pintu kereta api,” kata Adhi.
Ia mengatakan, ada tiga orang yang mendapat penghargaan itu. Pun diberikan bantuan berupa sembako. Selain itu diberikan juga topi, senter dan juga rompi.
”Kami berikan apresiasi dan award ini karena mereka adalah sukarelawan. Dia megatur lalu lintas dan palang pintunya pun swadaya sendiri. Jadi mereka kami berikan apresiasi karena sudah membantu anggota kepolisian juga dalam mengatur lalu lintas di sini,” jelas Adhi.
”kami juga berikan apresiasi ini untuk menumbuh rasa bangga mereka, sehingga mereka tetap semangat menjadi relawan. Sekaligus mengedukasi safety mereka sendiri. Selain menjaga orang lain, mereka juga menjaga safety diri sendiri,” imbuh Adhi.
Adhi juga berpesan agar masyarakat pun turut berhati-hati saat melaju di perlintasan kereta api dan selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas.
”Masyarakat sekitar di Cimahi kami juga meminta agar mematuhi rambu-rambu lalu lintas, terutama saat berada di perlintasan Kereta api,” tegas Adhi.
Sementara itu, salah satu relawan penjaga lintasan pintu rel kereta api di Kampung Sumur Bor Desa Cilame Kecamatan Ngamprah, Ujang Sumarna (51), mengatakan, bahwa sebelum ia melaksanakan tugasnya, pada tahun 1991 ayahnya lah yang ditugaskan RW setempat untuk menjaga perlintasan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sebelumnya RW setempat dalam sebuah rembugan, memutuskan untuk menjaga pelintasan kereta itu tahun 1989, karena semakin ramai yang melintas di tempat tersebut.
”Sampai saat ini semua yang menjaga ada 9 orang. Ada giliran kapan waktu jaganya,” kata Ujang.
Ujang sendiri mengaku bahwa ia bekerja sukarela. Tidak juga memaksa warga harus memberi uang saat ia bertugas.
”Ya silahkan aja, ada yang ngasih ada yang enggak, semua karena Allah saja. Saya mah karena Allah aja demi keselamatan bersama, masyarakat yang ,melintas di sini,” jelas Ujang.
Suka duka ia jalani saat menjaga perlintasan itu. Ia juga bercerita meski ia membantu demi keselamatan semua, ada juga yang menerobos pintu perlintasan itu.
”Banyak sih yang kecelakaan, orang, kendaraan motor. Mobil juga ada. Makanya saya mah terpanggil karena Allah. Yang penting warga selamat,” kata Ujang.
Ujang sendiri mengakau bahwa ia tidak menerima jadwal perjalanan kereta api dari pihak yang berwenang, ia mulanya hanya menghapal waktu kereta melintas di kawasan itu. Setelah ia tau jadwal, maka 10 menit sebelum kereta melintas, ia sudah bersiap menutup perlintasan tersebut.(*)






