Sambut Tahun Baru, Econique Palawi Risorsis Gelar Music and Barbeque Night di Cikole

Sejumlah grup band turut memeriahkan malam pergantian Tahun Baru bertajuk 'Music & Barbeque Night' yang digelar Econique Palawi Risorsis, Perhutani bersama Djarum Super Adventure di Cikole Jayagiri Resort, Lembang, KBB, Selasa (31/12/2024). Foto/Istimewa

BANDUNG BARAT,BANDUNGSATU.COM – Econique Palawi Risorsis, Perhutani bersama Djarum Super Adventure menggelar acara malam pergantian Tahun Baru 2025.

Acara yang digelar di Cikole Jayagiri Resort, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu bertajuk ‘Music & Barbeque Night’.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Direktur Utama PT Palawi Risorsis Tedy Sumarto beserta Sekretaris Perusahaan Yuswan Hendrawan, GM Palawi Wilayah Barat Yuyu Rahayu bersama jajaran managemen Cluster Lembang dan tokoh masyarakat Cikole Bah Wawah.

Manager Palawi Cluster Lembang Sumarsono menyampaikan, sebelum malam pergantian tahun, penginapan di kawasan Cikole Forest Estate Tourism di antaranya Cikole-Jayagiri Resort dan Camping Ground di Green Grass sudah penuh.

“Pada liburan akhir tahun ini di kawasan Cikole Forest Estate Tourism pola camping keluarga dengan konsep Campervan meningkat, disamping camping mandiri dengan menggunakan tenda,” ujarnya

Sementara itu Dirut Palawi Tedy Sumarto yang hadir di acara pergantian tahun di Dapoer Bale Caang Cikole – Jayagiri Resort tampak berbaur dengan tokoh masyarakat Lembang.

Di antaranya Bah Wawah sesepuh masyarakat Cikole Lembang, Thio Setiowekti pemerhati lingkungan dari Lembang, dan juga masyarakat lainnya.

Bah Wawah sebagai tokoh budaya di Cikole Lembang sekaligus masyarakat sekitar Tangkuban Perahu menyatakan bersyukur dapat menghadiri acara akhir tahun sekaligus bersilaturahmi dengan jajaran Palawi di Cikole Lembang.

Bah Wawah juga berpesan kepada jajaran Palawi agar mengakomodir masyarakat setempat termasuk LMDH Giri Makmur Cikole Lembang. Sehingga berkembangnya kawasan wisata Perhutani Alam Wisata di Cikole Lembang, harus dirasakan manfaatnya oleh para tokoh budaya, tokoh lingkungan, LMDH dan  masyarakat setempat agar ada kesadaran menjaga lingkungan.

“Mengingat hutan sudah menjadi sumber penghasilan untuk wisata, tapi juga harus menjaga kearifan lokal dan jangan sampai merusak kelestarian alam,” tegasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *