BANDUNGSATU.COM – Maraknya alih fungsi lahan di Kabupaten Bandung Barat berimbas pada menyusutnya lahan pertanian di wilayah tersebut. Apalagi banyak pula irigasi yang rusak dan tidak optimal untuk mengairi areal persawahan.
Dengan menyusutnya lahan pertanian, Pemda KBB dipastikan harus bekerja keras untuk mengejar target tanam padi di KBB yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat di tahun 2025, yaitu seluas 60.238 hektare (ha).
“Tahun ini kami mendapatkan target tanam padi dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian yakni seluas 60.238 hektare (ha),” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), KBB, Moch Lukmanul Hakim saat ditemui di kantornya, Selasa (11/02).
Lukman mengatakan, tahun lalu KBB berhasil mewujudkan swasembada beras dan melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat. Berdasarkan data produksi sampai tahun 2024 mencapai sebanyak 303.871 ton GKG (gabah kering giling), jika dikonversi padi GKG ke beras sekitar 64,11%
Bila dihitung dari presentasi tersebut, produksi beras di KBB hingga tahun 2024 sebanyak 194.811,7 ton. Sementara untuk konsumsi beras per kapita per tahun sebesar 82,3 kg. Dengan proyeksi jumlah penduduk di KBB sebanyak 1.884.191, maka proyeksi konsumsi beras rumah tangga sebanyak 155.048 ton beras per tahunnya.
“Berdasarkan data produksi dan konsumen tersebut, maka produksi beras di KBB masih surplus 39.763,7 ton beras. Namun untuk memenuhi target tanam padi tahun ini tetap berat, sulit tercapai,” ujarnya.
Lukman menjelaskan, lahan baku sawah eksisting saat ini di KBB hanya sekitar 18.350,82 ha. Hal itu berdasarkan hasil pemetaan Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 2023. Lahan baku sawah eksisting itu terbagi menjadi sawah irigasi 3.856,49 ha dan sawah non irigasi 14.494,34 ha.
Namun tidak semua saluran irigasi dalam kondisi baik. Semisal Daerah Irigasi Leuwikuya di Kabupaten Bandung yang mengairi ke lahan pertanian di Kecamatan Cihampelas, KBB, seluas 1.010,01 ha, kondisinya sudah tidak efektif, terutama saat musim kemarau. Apalagi dari luasan itu, banyak yang sudah berubah ke sawah non irigasi.
“Sekarang akibat saluran irigasinya tidak berfungsi maksimal, banyak yang sudah beralih fungsi jadi pabrik dan perumahan,” jelas lukman.
Menurutnya, jika sawah irigasi teraliri dengan baik maka indek pertanaman di KBB angkanya sebesar 3,3 setahun. Artinya, bisa dirata-ratakan musim tanam di kbb lebih dari tiga kali dalam setahun. Walaupun fakta di lapangan ada juga lahan sawah yang hanya dua kali dalam setahun.
Atas kondisi tersebut, Lukman telah mengusulkan perbaikan sejumlah daerah irigasi yang jadi kewenangan provinsi ataupun kabupaten. Apalagi target tanam padi Pemda KBB dari pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah seluas 31.291 ha.
“Melihat kondisi di lapangan maka realistisnya hanya menyanggupi target tanam diangka 44.465 ha, itu pun sudah ditambah dengan padi gogo/padi ladang sekitar 326 ha dari 304 Ha, lahan yang ada. Itu berarti ada selisih kekurangan sekitar 15.772 ha dari target pemerintah pusat,” pungkas Lukman. (*)






