BANDUNGSATU.COM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, mengkonfirmasi bahwa 23 prajurit dari satuan Marinir tertimbun tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
“Memang terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor,” kata Ali, di kutip di Jakarta, Senin (26/01).
Ali mengatakan, proses pencarian dan evakuasi hingga saat ini masih terus dilakukan. Dari total korban yang tertimbun, empat personel telah ditemukan dalam kondisi meninggal.
“Saat ini sudah diketemukan baru 4 personel dalam kondisi meninggal dunia dan lain belum ditemukan, masih diadakan upaya pencarian terus,” ujarnya.
Sementara itu Incident Commander bencana longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat Ade Zakir mengatakan, pendataan korban sipil dan TNI dilakukan secara terpisah.
Posko Pengungsian Kantor Desa Pasirlangu hanya mendata korban-korban sipil sedangkan pendataan korban TNI dilakukan oleh tim khusus.
“Itu di luar Basarnas kita, di luar. Ada tim khusus yang menangani,” kata Ade Zakir saat ditemui di Posko.
Pernyataan Ade Zakir ditegaskan kembali oleh Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, yang menyebut tentara yang menjadi korban longsor ditangani oleh pihak TNI.
“Koordinasinya dengan pihak Kodam, TNI. Kami fokus dipencarian yang 84 warga, meskipun dalam praktiknya kami bersinergi berkoordinasi, itu (datanya) sendiri, silakan dengan TNI,” kata Herman.
Longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuning dan Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, tersebut menghilangkan 105 orang. Dari jumlah tesebut ada 25 jenazah yang berhasil dievakuasi hingga hari kedua Minggu (25/01).
Dari 25 kantung, petugas telah berhasil mengidentifikasi 17 jenazah.
“Dari 25 bodpack, infomasi pagi ini, 17 sudah teridentifikasi dan sudah dikembalikan ke keluarga masing-masing, dan 8 bodpack masih proses identifikasi,” kata Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman.
Herman mengungkapkan, tiga alat berat telah berada di area longsor mempercepat proses pencarian.
“Tiga eskavator, kecil ya dari BPBD provinsi, dari Bina Marga Provinsi, dan BBWS, kalau kurang kami tambah lagi, nanti basarnas yang menentukan kebutuhan lapangan,” ungkapnya.
Herman menambahkan, koordinasi lintas instantsi terus dilakukan agar manajemen penanganan korban bencana maupun pencarian korban bisa dilakukan lebih efektif.
“Barusan kami melakukan sinkronisasi dari BNPB dari provinsi dan kabupaten agar manajemen penanganan bencananya bisa efektif, efesien, semua bidang bisa bekerja optimal,” pungkasnya. (*)






