INTERNASIONAL, BANDUNGSATU.COM – Para diplomat dari AS, Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya terlibat dalam pembicaraan yang menemui kebuntuan untuk meredakan krisis kemanusiaan di Gaza, Minggu (15/10). Bentrokan di sepanjang perbatasan Israel dengan Lebanon dan serangan udara Israel di Suriah memicu kekhawatiran konflik yang lebih luas di wilayah tersebut.
Pemerintah darurat Israel pun baru saja mengadakan pertemuan formal pertamanya di tengah putusnya kepercayaan total antara warga dan negara, yang tampaknya sedang mempersiapkan invasi. “Kami akan memisahkan Hamas,” kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Sabtu (14/10).
Kemarin, militer Israel menawarkan waktu 6 jam untuk penduduk Gaza untuk pergi melalui jalan raya utama. Sementara itu Kementerian Kesehatan di Gaza menolak untuk mengevakuasi rumah sakit.
“Tidak ada tempat di Gaza yang dapat menerima jumlah pasien di unit perawatan intensif kami atau unit perawatan intensif neonatal atau bahkan ruang operasi,” kata Dr. Muhammad Abu Salima, direktur Rumah Sakit Al Shifa, kompleks medis terbesar di Gaza.
Setidaknya 2.670 orang di Gaza telah tewas selama seminggu terakhir, menurut kementerian Kesehatan. Serangan Israel di sebuah rumah di Rafah, dekat perbatasan Mesir yang ditutup, menewaskan sedikitnya 17 anggota keluarga, menurut laporan media Palestina.
Hampir setengah dari populasi Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta orang telah mengungsi dan menghadapi berkurangnya pasokan makanan dan air. Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional Gedung Putih, mengatakan kepada CNN bahwa Israel telah memulihkan pasokan air ke bagian Gaza, meskipun tidak ada konfirmasi langsung dari pejabat di sana atau di Israel.
Sementara itu, pertempuran di sepanjang perbatasan utara Israel dengan Lebanon pun turut meningkat. Kemarin, setidaknya satu warga sipil Israel tewas dan tiga lainnya terluka setelah Hizbullah, kelompok kuat yang didukung Iran yang mendominasi Lebanon selatan, menembakkan rudal ke komunitas perbatasan Israel Shtula.
Serangan udara Israel lainnya, diduga terjadi pula di bandara internasional di Aleppo, Suriah, menurut media pemerintah Suriah, Minggu (15/10). Serangan tersebut telah diakui oleh otoritas Pemerintah Israel. (AP)






