BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Imbas sampling makanan yang dikirim ke laboratorium telah melebihi batas waktu, pemicu keracunan massal yang menimpa 83 warga Kompleks Tipar Silih Asih, RW 17, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dipastikan tak bisa diketahui.
Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB, Deni Achmad, Sabtu (14/07), dalam penyelidikan pemicu peristiwa keracunan makanan, idealnya sampel dikirim ke laboratorium maksimal 2 hari setelah peristiwa keracunan terjadi. Hal ini dilakukan agar mencegah bias terhadap sampel. Sayangnya, kasus keracunan di Tipar justru baru diketahui 3 hari pasca kejadian sehingga sampel tak dapat diperiksa.
“Untuk hasil laboratorium di Tipar, tidak dapat dinilai. Karena menurut SOP, pemeriksaan sample makanan tidak boleh lebih dari 2×24 jam,” kata Deni Achmad.
Keracunan makanan tersebut, diketahui terjadi di Kompleks Tipar, usai warga makan nasi kotak acara syukuran khitanan salah seorang warga, pada Minggu 23 Juni 2024. Sehari setelahnya, para tamu undangan mengalami gejala pusing, muntah-muntah, diare, serta demam.
Meski ada keluhan keracunan sehari setelahnya, warga tak langsung melapor. Mereka mengira gejala yang dirasakan hanya sekadar masuk angin, tanpa ada dugaan keracunan dari makanan nasi kotak.
Kasus keracunan mulai terkuak setelah beberapa hari berselang, keluhan diare dan mual banyak dirasakan warga terutama mereka yang sempat menghadri acara syukuran.
“Kejadian keracunan terjadi di hari Minggu, sementara warga setempat baru melapor ke Puskesmas dan Dinkes setelah tiga hari yaitu di hari Rabu. Jadi sampel tak bisa dicek oleh laboratorium,” imbuh Deni.
Meski tak diketahui penyebabnya, sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan akan memperketat pengawasan terhadap para pelaku usaha kuliner dan katering. Mereka akan diberi pembinaan tentang pengolahan makanan secara higienis.
“Untuk antisipasi kejadian serupa kita akan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap pelaksanaan pembuatan makanan untuk konsumsi jumlah besar. Kami akan kolaborasi dengan berbagai stakeholder,” tegas Deni.
Dinas Kesehatan dan aparat kewilayahan sendiri telah mengirimkan 8 sampel makanan untuk menyelidiki kasus keracunan di Tipar. Sampel itu meliputi nasi, ayam goreng, telor balado, capcay, perkedel jagung, kerupuk, udang, dan sambal.
Sementara itu, Camat Padalarang, Agus Achmad Setiawan mengatakan, sampel makanan itu diambil dari salah seorang warga yang sama sekali tidak memakan nasi kotak dari tetangga yang menggelar hajatan khitanan.
“Sampel nasi kotaknya sudah dibawa sama Puskesmas, menunya ada capcay, ayam goreng, telur balado, dan lain-lain. Jadi kebetulan ada warga yang masih simpan nasi kotaknya di kulkas,” kata Agus. (*)






