BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Untuk meninjau secara langsung serta terus menerus, tingkat kualitas udara di Bandung Barat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memasang Air Quality Monitoring System (AQMS) atau Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien (SPQUA) di Kompleks Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Alat tersebut dikabarkan dapat meninjau tingkat kualitas udara, setidaknya dalam jarak 5 Kilometer dari SPQUA itu dipasang.
Hal tersebut disampaikan Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (P2KL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB, Idad Saadudin. Menurutnya dengan alat ini, pihaknya bisa mendapatkan informasi terkait kualitas udara di wilayahnya.
“Jadi sistem pemantauan air secara terus menerus real time dan itu bisa dipantau oleh Jakarta. Karena pemerintah pusat yang punya, tapi kita juga bisa dapat informasi itu karena ada di wilayah kita. Tapi akunnya harus di registrasi dari KLHK,” kata Idad Saadudin kepada para pewarta, Jumat (12/07).
Idad mengatakan, sebelum menggunakan AQMS dan SPQUA pengujian kualitas udara di Kabupaten Bandung Barat menggunakan metode pasif sampler. Meskipun cara ini bisa mengukur kualitas udara dengan jarak yang cukup jauh, namun hasilnya tidak langsung dilihat.
“Itu (pasif sampler) berbeda dengan stasiun ini karena yang itu tidak real-time. Ujung-ujungnya kita tidak bisa sendiri juga kualitas udara misalnya harus bekerjasama dengan lingkungan hidup. Jadi satu metode. Adapun swasta anggap saja itu pembanding,” ujar Idad.
Di tempat yang sama Staf Bidang P2KL DLH KBB, Heru, menjelaskan, sedikitnya ada tujuh indikator untuk mengukur kualitas udara di suatu wilayah. Selain itu data kelembaban, temperatur serta arah dan kecepatan angin juga menjadi faktor penting.
“Ada SOX atau SO2 kemudian ada NO2 SO2 Sulfur Dioxide kemudian NO Nitrogen Dioxide, kemudian Ozon, O3, kemudian ata Nitro Karbon mungkin ada sekitar 6 sama tujuh parameter. Nah itu nanti akan ditampilkan datanya melalui sistem kita. Contoh parameter yang kita ukur melalui Air Quality Monitoring System atau Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien. Nah arah angin, suhu, hujan dan selebihnya terpantau di sini,” kata Heru.
Heru memastikan alat pemantau udara ini hasilnya bisa dilihat secara langsung atau real-time, namun hanya dalam radius 5 kilo meter dari titik pemasangan.
“Jadi per 5 KM kalau kita ambil radiusnya itu sekitar 5 KM kalau kita ambil diameter itu 10 KM daei titik pusatnya,” jelas Heru.
Ia juga menjelaskan, berdasarkan data dari SPQUA kualitas udara di Bandung Barat saat ini berada di tingkat sedang. Hasil tersebut menurutnya lumayan baik, mengingat wilayah KBB terdapat banyak industri serta kendaraan yang menyumbangkan polusi udara.
“Kalau hasil pemantauan Insya Allah dalam kondisi sedang menuju baik karena nilai partikulat meternya saja yang agak ini sedikit jadi ini statusnya sedang. Insyaallah kalau kualitas udara ini sudah diatas targetnya Pemda, sudah diatas targetnya KLHK untuk kualitas udara,” ungkapnya.
Ia pun mengungkapkan bahwa ada 50 alat yang dipasang KLHK di seluruh Indonesia. Adapun di Bandung Raya baru ada dua diantaranya Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung.
“Sedangkan di Jawa Barat termasuk yang di KBB itu sekitar 7. Mungkin ada-ada juga alat-alat yang diadakan secara mandiri artinya kalau KBB ini dapat alat ini dari KLH melalui data dak dan misalkan Kabupaten/Kota secara finansial mampu mendanai nya mungkin bisa beli sendiri,” jelas Heru. (*)






