BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Khawatir dengan paparan radikalisme, Relawan Juragan (Jaringan Rakyat untuk Ganjar) memberikan sosialisasi soal Ideologi Pancasila. Pada acara yang digelar Saung Coet, Desa Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Koordinator Juragan, Riani Pusparini Soedarmo, mengatakan bahwa banyak anak muda yang sudah kurang paham dengan esensi Ideologi Pancasila, terlebih Pelajaran tentang Pancasila sudah tidak ada di sekolah.
“Tujuannya ya satu, bahwa saya ingin terus menggulirkan atau memboomingkan tentang Ideologi Pancasila kepada anak-anak muda, yang memang sekarang ini mereka tidak mendapatkan pengetahuan tentang itu. Even di sekolah kan mereka sudah tidak mendapatkan itu. Even di sekolah kan udah gak ada yah. Pelajaran tentang Pancasila itu udah gak ada,” kata Riani, Rabu (13/09).
Meski Riani adalah relawan salah satu capres, namun ia menegaskan bahwa sosialisasi soal Ideologi Pancasila tidak dijadikannya sebagai alat politik, dengan mengampanyekannya di saat jelang Pilpres saja. Ia bertekad untuk terus menggulirkan acara ini terus menerus di Kabupaten Bandung Barat.
“Khususnya di Bandung Barat, saya sudah berhasil di Parongpong, mudah-mudahan nanti akan berjalan ke kecamatan lainnya,” tegas Riani.
Semangatnya melakukan kampanye dilakukannya karena miris karena di kalangan anak muda banyak yang terpapar radikalisme bahkan ia mengatakan di Desa kelahirannya sendiri ternyata jadi basis kelompok HTI.
“Tadi di acara ini bahkan ada 3 orang yang pernah terpapar. Mereka kembali karena tidak sesuai dengan hati nuraninya. Bahkan di WAGnya saya bilang kita jadikan Desa Cigugur Girang sebagai Desa Pancasila. Mereka sendiri bilang tadi, bu di sini basis HTI masih banyak,” jelas Riani.
Sementara itu aktivis Lintas Iman, Wawan Gunawan yang memiliki gelar Doktor ini, mengatakan bahwa saat ini, dari riset yang diikutinya dari 2011 yang digelar UIN Jakarta, menunjukkan bahwa yang pro Pancasila menurun 10 persen, sementara ada kenaikan yang anti Pancasila 10 Persen. Yang mengejut bahkan ada 50 persen dari kalangan guru yang anti Pancasila.
“Jadi guru-guru yang anti Pancasila asalnya sekitar 12 persen, belakangan bisa sampai 50, 60 persen. Itu risetnya PPIN UIN Jakarta, mungkin angka konkritnya bisa disearching di Google, tapi intinya ada tren bahwa orang melupakan Pancasila dan punya cita-cita tentang negara Syariat,” jelas Wawan.
Ia juga melihat fenomena dalam keagamaan di mana mulai muncul kelompok ekstrem yang hadir melalui spanduk seperti bagaimana harus makan dengan tangan kanan. “sampai di Depok aja muncul spanduk oleh Pemerintahnya, ‘Hendak lah makan dengan tangan kanan.’ Cik atuh nu kitu-kitu wae atu lah,” kata Wawan yang juga menunjukkan bahwa indikasi dari isu harian itu mereka sebenarnya mencita-citakan negara agama.
Selain itu ia melihat adanya kelompok keagamaan yang memonopoli tafsir untuk membela kepentingan ekonomi dan politik yang terkadang sampai mengesampingkan nilai kemanusian semisal yang berbeda pilihan politik tidak ada yang menguburkan saat meninggal dunia.
Ia juga melihat tumbuhnya paham keagamaan yang tidak selaras dengan paham kebangsaan. Seolah-olah agama dan negara itu berdiri sendiri-sendiri. Padahal, kata Wawan para founding father bahkan para kiai membuat solusi dengan melahirkan Pancasila agar Indonesia yang berbeda suku dan agama bisa Bersatu.
“Dengan Pancasila, para kiai-kiai, ulama-ulama terdahulu ingin mengajarkan bahwa bela negara dan bela agama itu satu tarikan nafas,” papar Wawan.
Wawan sendiri merespon positif apa yang dilakukan Riani karena menyasar anak muda, karena mereka akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang.
“Nah makanya dalam proses politik kita mengajak juga pada anak-anak untuk berkomitmen juga menjaga Pancasila ini, karena tujuan akhir kita kan Pancasila,” jelas Wawan
Metode pembelajarannya sendiri tidak doktriner, namun mengenalkan Sejarah Pancasila yang tumbuh dari masyarakat, tumbuh dari wilayahnya masing-masing, karena Pancasila, kata Wawan, digali dari khasanah kultural bangsa Indonesia sendiri.
Riani dan Wawan sendiri mengatakan bahwa dalam proses sosialisasinya mereka menyadarkan para pemuda itu akan tantangan yang dihadapi bangsa pada saat ini.
“Ya tantangannya itu, radikalisme, egois, ingin kelompoknya aja yang didahulukan, mayoritarianisme, minoritaniaisme,” tegas Wawan.
Goal sederhana yang diharapkan setidaknya dalam pergaulan sehari-hari anak-anak yang ikut dalam sosialisasi ini bisa hidup dengan Pancasila melalui tingkah laku sederhana tanpa harus berfikir bahwa Pancasila adalah alat negara, yang mengajak berfikirnya rumit.
“kami mengajarkannya dengan peace experience lah, pengalaman yang menciptakan damai,” seraya mengatakan bahwa dalam pengalaman yang dibagikan oleh peserta mereka saat disusupi HTI, mereka ditentang untuk berkiblat pada demokrasi karena berasal dari barat.
“Padahal Islam menghargai demokrasi. Di Islam ada nilai-nilai musyawarah, dalam ke-Indonesia bahkan bangsa yang ngobrol. Siskamling itu kan bisa sampai jam 3 pagi ngobrol. Itu kan musyawarah,” pungkas Wawan.






