Indikasi Calon Bupati BERJAMAAH Mendapat Bocoran Jawaban di Debat Pilkada Pertama, Diduga KPU KBB tidak Netral

Paslon BERJAMAAH, Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati KBB, Jeje Ismail dan Asep Ismail. Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Isu perang dingin menyeruak pada debat pertama Calon Bupati dan Wakil Bupati Bandung Barat, selasa (29/10). Perang dingin itu terjadi antara Gilang Dirga dan Jeje Ritchie Ismail yang sama-sama artis.

Pada acara debat tersebut, di segment ke tiga, masing calon diperkenan bertanya kepada paslon lain tanpa harus keluar dari tema yang ditentukan panelis. Saat itu moderator memberikan kesempatan kepada paslon nomor urut 1 Didik Agus-Gilang Dirga, untuk bertanya.

Gilang memilih melemparkan pertanyaan kepada paslon nomor urut 2 Jeje Ritcie Ismail tentang idealnya pengelolaan birokrasi dengan sistem Meritokrasi.

“Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada saudara Jeje, berkaitan dengan SDM, bagaimana dengan isu Meritrokrasi?,” tanya Gilang kepada Jeje.

Alih-Alih menjelaskan apa yang ditanyakan, Jeje malah memaparkan soal Indeks Pembangunan Manusia (IPM), masalah pendidikan dan program kesehatan masyarakat.

“IPM masyarakat KBB masih dibawah karena energi siswa habis untuk pergi kesekolah, bagi pelayanan kesehatan sakit makin sakit parah dan sakit parah tidak tertolong karena aksebilitas insfrastruktur. Selain dalam peningkatan ekonomi tidak ada validasi data kemiskinam dan dana sering diselewengkan,” kata Jeje.

Ketika diberikan kesempatan menanggapi jawaban yang jauh dari konteks pertanyaan itu pasangan nomor urut 3 Hengki Kurniawan-Ade Sudrajat langsung berkomentar sinis pada tanggapan Jeje, Hengki mengatakan paparan Jeje tidak menjawab pertanyaan Gilang Dirga.

“Jawaban nomor 2 tidak nyambung, menurut saya Meritrokasi sudah menjadi sistem yang ideal untuk menempatkan jabatan birokrat secara obyektif sesuai kapasitas dan kemampuan serta kebutuhan pemerintah daerah,” kata Hengki.

Paslon nomor urut 5 Sundaya-Asep Ismail memberikan pernyataan serupa. Mereka secara gamblang mengatakan jawaban Jeje tidak tepat. Sundaya bahkan memberi kesempatan kepada pasangannya Asep Ismail yang memang pensiunan birokrat pemerintah KBB, untuk memberi pencerahan.

“Meritokrasi hingga saat ini menjadi sistem yang paling obyektif dalam penempatan pegawai pelayanan masyarakat berdasar kualifikasi, kompetensi dan kinerja,” kata Asep ismail.

Paslon nomor urut 4, Edi Rusyandi-Unjang As’ari menjelaskan pula soal meritokrasi tersbut. Edi mengatakan bahwa tahapan mutasi, promosi jabatan di lingkungan pemerintah daerah menilai sudah ideal karena lebih transparan untuk menempatkan birokrat sesuai kompetensi.

” Sistem meritrokasi ini efektif untuk menempatkan orang sesuai kompetensi. Menekan dan menghilangkan praktek kolusi dan pandangan subyektif. Tidak akan lagi ada praktek kolusi, menduduki jabatan karena kedekatan. Jika Meritrokasi menyimpang bakal berdampak buruk pada penunjang dan percepatan pelayanan dan pembangunan,” kata Edi.

Jawaban Jeje yang dikomentari oleh pasangan lainnya membaut prihatin para pengamat politik. Mereka menyayangkan kualitas pasangan calon yang tidak mencerminkan pengetahuannya sebagai pemimpin.
Divisi Humas Lembaga Studi Masyarakat Kabupaten Bandung Barat Mentari Kala Senja pun mencurigai pasangan calon tertentu sudah mendapat bocoran, terbukti ia nampak membaca saat menjawab pertayaan yang diajukan.

“Ada indikasi kebocoran soal sepertinya untuk paslon tertentu. Terbukti dia terlihat membaca teks saat menjawab pertanyaan yang diajukan Panelis,” kata Mentari.

“Seandainya benar pasangan itu sudah mendapat bocoran jawaban, KPU sudah tidak netral nih,” imbuhnya.

Mentari pun mengungkapkan pula, sayangnya pasangan yang ditanya, meski membaca script ternyata tidak tepat jawabannya.

“Ini harus menjadi koreksi. Setidaknya kalau jawaban tidak sesuai, diingatkan moderator juga. Kan namanya diskusi,” kata Mentari.

Ia pun mengatakan kalau memang sistem tanya jawab jadi tidak menarik, karena jawaban yang tidak nyambung, maka dicari pola yang lain.

“Debat ala Capres Amerika tempo hari antara Trum dan Harris kok gak ada yang berani coba di kita ya. Di Pilkada akan seru bila itu diterapkan. Karena masing-masing kandidat akan diketahui kapasitasnya dalam menguasai masalah,” tegas Mentari.

Ia berharap pada debat ke dua 16 November nanti ada hal baru yang membaut debat lebih berisi dan memcerah buat para calon pemilih, siapa yang sebenarnya layak menjadi Bupati Bandung Barat. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *