Ibu- Ibu di Desa Tanimulya Bandung Barat Gerudug Rumah Terduga Penjual Obat-Obat Keras

Ratusan warga Kampung Rawa Desa Tanimulya Kecamatan Ngamprah, KBB menggerudug rumah yang berada ditanjakan Taid yang diduga menjual obat obatan daftar G Minggu ( 01/09). Foto/BANDUNGSATU.COM

BANDUNGSATU.COM – Ratusan ibu-ibu dan remaja Warga Kampung Rawa, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten  Bandung Barat, menggerudug dan menggelar demo di sebuah rumah yang berada di Jl. Tanjakan Taid, Minggu (01/09).

Kegeraman warga sekitar, karena diduga di lokasi tersebut adalah tempat penjualan obat-obat daftar G, dengan pembeli yang kebanyakan anak-anak remaja di sekitar Desa Tanimulya dan Cilame, Kecamatan Ngamprah.

Ibu-ibu dibantu oleh para remaja, serta bapak-bapak, mendobrak pintu gerbang yang terbuat dari teralis besi, serta mengamankan tiga orang pedagang obat obatan tersebut ke Kantor Desa Tanimulya, untuk dimintai keterangan.

Dari video yang beredar, nampak para terduga pelaku peredaran obat keras tersebut digiring langsung oleh para ibu yang sudah geram dengan aksi ilegal para pelaku.

Dari rumah pelaku, seorang ibu nampak mengamankan goddy bag berwarna kuning dan hitam yang diduga di dalamnya berisi obat-obat keras yang diperjual belikan secara ilegal kepada para remaja.

Salah satu warga Tanimulya Suryati mengatakan, ia sangat kaget melihat para ibu dan remaja, serta anak anak tetangga sekitar rumahnya, berduyun-duyun serta berteriak teriak datang ke salah satu rumah yang diduga memperjualbelikan obat-obatan daftar G

“Sambil teriak-teriak ibu-ibu itu minta yang punya rumah keluar,” kata Suryati.

Emosi ibu-ibu tersebut terlihat meluap-luap karena berkembangnya informasi, banyak anak-anak sekitar Tanimulya dan Cilame ketergantungan obat-obat keras tersebut.
“Mereka khawatir kalau sudah mabuk obat, jadi bisa menimbulkan masalah kriminalitas. Jadi aja mereka menggerebeg rumah itu,” imbuh Suryati.

Sementara itu, menurut warga lainnya, Piter, warga memang sudah mengendus adanya aktifitas tak wajar di tempat tersebut, sehingga karena merasa terganggu, akhirnya dilakukan protes besar-besaran.

“Nah warga di sini merasakan terganggu, makanya mereka agak keberatan. Dan orang-orang itu (penghuni rumah yang digerebek warga, red) dibawa ke Balai Desa,” jelas Piter.

Piter sendiri mengaku kegiatan tersebut sebenarnya sudah dipantau pihak kepolisian, hanya saja, polisi belum bertindak dan kemudian warga melakukan penggerebegan.

“Ya mereka geram, makanya mereka demo di sini,” kata Piter.

Piter sendiri mengatakan bahwa aktifitas para pelaku terbilang sudah lama, dan mereka bukan penduduk setempat, melainkan pendatang dari Aceh. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *