BANDUNGSATU.COM – Tema Hari Jadi Kabupaten Bandung Barat (HJKBB) ke-19 bertajuk “Ngajaga Amanah, Ngawangun Raharja” dinilai memiliki pesan yang kuat dan relevan dengan tantangan pembangunan daerah saat ini. Tema tersebut tidak hanya merepresentasikan identitas kesundaan dan nilai religius yang menjadi karakter masyarakat Kabupaten Bandung Barat, tetapi juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga kepercayaan publik serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan yang berkelanjutan. Meski demikian, kekuatan pesan yang terkandung dalam tema tersebut dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam visual logo peringatan yang diluncurkan tahun ini.
Perhatian publik terhadap HJKBB ke-19 tidak hanya tertuju pada rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan, tetapi juga pada identitas visual dan arah besar peringatan yang ingin dibangun. Sebagai momentum refleksi perjalanan daerah yang telah memasuki usia ke-19 tahun, HJKBB seharusnya mampu menjadi ruang untuk memperkuat kebanggaan masyarakat, mempererat kolaborasi antar pemangku kepentingan, sekaligus menegaskan visi pembangunan Kabupaten Bandung Barat ke depan.
Tema tersebut juga memiliki makna filosofis yang relevan dengan kondisi Kabupaten Bandung Barat saat ini. “Ngajaga Amanah” mengandung pesan tentang pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat, menjaga integritas pemerintahan, melanjutkan cita-cita para tokoh pemekaran, serta memastikan setiap kebijakan dijalankan secara bertanggung jawab dan berpihak kepada kepentingan publik. Sementara “Ngawangun Raharja” merepresentasikan tujuan akhir pembangunan, yakni terwujudnya kesejahteraan, kemakmuran, keadilan sosial, dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
“Tema ‘Ngajaga Amanah, Ngawangun Raharja’ menurut saya cukup kuat. Ada keberanian menggabungkan identitas Sunda, nilai religius, dan semangat pembangunan dalam satu narasi. Pesannya jelas, kesejahteraan hanya bisa terwujud apabila amanah publik dijaga dengan baik,” kata Analis Puskapolekbang, Asep Iyang Lukman.
Meski demikian secara visual dan estetika, desain logo tahun ini dinilai belum mampu menerjemahkan kekuatan tema tersebut secara optimal. Jika dibandingkan dengan beberapa desain peringatan pada tahun-tahun sebelumnya, kualitas visual logo saat ini dianggap mengalami penurunan.
Menurut Asep, Kabupaten Bandung Barat sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya manusia kreatif. Banyak desainer profesional, akademisi, komunitas kreatif, pelaku ekonomi kreatif, hingga ASN yang memiliki kompetensi untuk menghasilkan karya visual yang lebih representatif dan berdaya saing.
“Persoalan utama bukan pada tema, tetapi pada bagaimana tema besar itu diterjemahkan ke dalam kebijakan, program, kegiatan, dan identitas visual yang mampu membangun kebanggaan masyarakat,” tuturnya.
Selain persoalan identitas visual, aspek pelibatan stakeholder pembangunan juga dinilai masih belum optimal. Padahal, HJKBB memiliki potensi besar menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan dunia usaha.
Asep pun, menilai pemerintah daerah perlu mengintegrasikan peran PHRI, Forum CSR, Pokdarwis, APDESI, TP PKK, Dharma Wanita Persatuan, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, komunitas sosial, BUMD, BUMN, perguruan tinggi, hingga sektor swasta dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan.
“Hari jadi daerah jangan dipandang sebagai agenda pemerintah semata. Ini harus menjadi perayaan seluruh masyarakat Kabupaten Bandung Barat. Karena itu pelibatan stakeholder harus diperluas agar dampaknya juga semakin besar,” tambahnya.
Ia juga menyoroti masih terpusatnya berbagai kegiatan di kawasan Padalarang, Ngamprah, Kota Baru Parahyangan, Lembang, dan sekitarnya. Menurutnya, HJKBB harus menjadi momentum untuk memperkuat pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Bandung Barat.
“Kabupaten Bandung Barat memiliki 16 kecamatan. Jangan sampai masyarakat di wilayah selatan hanya menjadi penonton pembangunan. Pemerataan lokasi kegiatan penting agar manfaat ekonomi dan pembangunan dapat dirasakan lebih adil oleh seluruh masyarakat,” tandasnya.
Asep pun mendorong agar rangkaian HJKBB ke depan disiapkan minimal tiga bulan sebelum pelaksanaan, melibatkan lebih banyak stakeholder, memanfaatkan ruang publik di berbagai kecamatan, menghadirkan pelayanan publik terpadu, serta memperkuat subsektor ekonomi kreatif, khususnya musik dan pertunjukan.
“Tema tahun ini sudah sangat baik. Tinggal bagaimana diterjemahkan menjadi kerja nyata. Jangan sampai visi AMANAH dan tagline ‘Ngajaga Amanah, Ngawangun Raharja’ hanya berhenti sebagai slogan. Masyarakat ingin melihat bukti bahwa pembangunan bergerak, pelayanan membaik, dan kesejahteraan benar-benar dirasakan,” pungkasnya.
Memasuki usia ke-19 tahun, Kabupaten Bandung Barat dihadapkan pada tantangan untuk memastikan setiap momentum peringatan daerah tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan yang mampu memperkuat identitas daerah, menggerakkan ekonomi, memperluas pelayanan publik, serta menghadirkan manfaat yang dirasakan merata oleh masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Bandung Barat. (*)






