BANDUNGSATU.COM – Sebagai upaya untuk memenuhi gizi anak di Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi tengah menggalakan gerakan Revolusi Putih, sekaligus penguatan ekonomi bagi peternak lokal khususnya di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).
“Gerakan anak-anak minum susu harus dilaksanakan. Kalau ini diterapkan, maka yang merasakan perkembangan ekonomi adalah para peternak yang ada di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat,” kata pria yang akrab disapa KDM tersebut di Ngamprah, baru-baru ini.
Menurut Dedi, Bandung Barat memiliki potensi besar dalam peternakan sapi perah. Mengingat beberapa wilayahnya, seperti Lembang, Cisarua, Parongpong merupakan salah satu daerah penghasil susu sapi terbesar di Jabar bahkan Indonesia.
Sayangnya, Dedi mengungkapkan bahwa produksi susu lokal belum sepenuhnya terserap karena tidak ada sistem distribusi yang terintegrasi dengan program konsumsi nasional, terutama di sekolah-sekolah.
Ia menilai Revolusi Putih bisa menjadi jalan keluar. Dengan menjadikan susu sebagai bagian dari program kesehatan anak-anak, maka permintaan akan meningkat dan ekonomi peternak ikut tumbuh.
KDM menuturkan, Pemerintah Daerah harus menggandeng koperasi peternak dan dinas pendidikan untuk memastikan pasokan susu lokal bisa masuk ke sekolah-sekolah dalam program makan siang bergizi gratis.
“Ini bukan sekadar soal nutrisi. Ini strategi ekonomi yang langsung menyentuh masyarakat bawah. Peternak untung, anak-anak sehat, ekonomi desa bergerak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Revolusi Putih dapat menjadi branding tersendiri bagi Bandung Barat, sekaligus menjadikannya contoh kabupaten dengan kebijakan pembangunan ekonomi berbasis komoditas lokal.
Program ini, menurut Dedi, bisa disinergikan dengan sektor pariwisata edukasi, di mana wisatawan bisa melihat langsung proses peternakan, produksi susu, hingga produk olahan seperti yogurt dan keju.
Menurutnya, inovasi dalam pertanian dan peternakan akan membawa Bandung Barat ke arah yang lebih mandiri dan tahan terhadap gejolak ekonomi nasional maupun global.
“Jangan takut untuk memulai. Kalau berhasil, Kabupaten Bandung Barat akan menjadi pionir. Perlu diingat ini semua bermula dari keberanian untuk mengatur ulang arah kebijakan daerah,” pungkasnya. (*)






