Edukasi Gizi Konsumsi Kental Manis, Pemda KBB Kolaborasi dengan Muslimat NU dan YAICI

Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail saat menghadiri sosialisasi dan edukasi bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Muslimat NU terkait peruntukan kental manis di Ruang PKK Kompleks Pemda KBB, Selasa (21/7/2026). Foto/BANDUNGSATU.COM

BANDUNG BARAT,BANDUNGSATU.COM – Tingginya angka penanganan stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menjadi perhatian serius.

Pasalnya dari total 27 kota/kabupaten di Jawa Barat, Kabupaten Bandung Barat masih menempati posisi tiga besar dalam sebaran kasus stunting.

Salah satu faktor krusial yang turut memperburuk kondisi gizi anak di wilayah ini adalah konsumsi kental manis sebagai asupan harian anak, yang dipicu oleh kekeliruan persepsi di tingkat masyarakat.

Isu mendesak ini terungkap dalam agenda sosialisasi dan edukasi antara Pemda Kabupaten Bandung Barat (KBB) bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Muslimat NU di Ruang PKK Kompleks Pemda KBB, Selasa (21/7/2026).

Menanggapi persoalan ini, Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail menyatakan, bahwa penanganan masalah gizi buruk dan stunting tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak semata, melainkan butuh kolaborasi lintas sektor.

“Pemahaman kental manis itu sejatinya bukan merupakan susu untuk pemenuhan gizi anak. Dampak dari konsumsi kental manis ini harus terus disampaikan. Terkadang ibu-ibu muda suka salah informasi terkait kental manis ini yang dianggap sebagai susu,” ucapnya.

Pihaknya mengapresiasi kolaborasi lintas sektor antara Muslimat NU,  YAICI, dan Pemda KBB. Termasuk terus mengimbau masyarakat yang mampu di tiap desa agar terketuk hatinya untuk saling membantu dan bergotong royong dalam memperbaiki gizi anak-anak di lingkungan mereka.

“Pemahaman kental manis itu sejatinya bukan merupakan susu untuk pemenuhan gizi anak. Dampak dari konsumsi kental manis ini harus terus disampaikan ke masyarakat,” sambungnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan KBB, dr. Enung Masruroh menjelaskan, akar masalah kental manis ini kerap disamakan dengan susu padahal kandungan gulanya mencapai 40 hingga 60 persen.

“Ini bukan susu murni. Jika dikonsumsi berlebihan sebagai pengganti minuman pokok, risiko kerusakan gizi, obesitas, hingga diabetes sangat nyata,” jelasnya.

Apalagi tren obesitas pada anak dan remaja di Bandung Barat kini cenderung meningkat. Sehingga edukasi yang digalakkan menekankan agar produk ini hanya digunakan sebagai penyedap sesekali, bukan kebutuhan harian.

Di tempat yang sama Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Sofihara menambahkan, konsumsi gula berlebih membuat anak cepat merasa kenyang sehingga menolak asupan gizi lain yang lebih lengkap, salah satu pemicu gizi buruk dan stunting.

“Melalui jaringan kuat Muslimat NU yang menjangkau hingga ke tingkat RT/RW, kampanye ‘kental manis bukan susu’ terus didorong,” ucap Erna.

Sementara Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira mengungkapkan, hasil survei nasional menunjukkan kesalahan persepsi ini masih menjangkau 67,7% masyarakat, dengan Jawa Barat memiliki angka di atas rata-rata nasional.

“Program berkelanjutan pun disiapkan melalui sistem ‘ketok tular’ kader agar pemahaman benar tentang gizi menurun ke generasi berikutnya demi mencetak sumber daya manusia yang sehat dan cerdas,” tandasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *