BANDUNGSATU.COM – Aktivis Anak Bangsa menggelar aksi unjuk rasa di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (16/04).
Aksi ini dipicu oleh keprihatinan mendalam terhadap kondisi transparansi dan tata kelola universitas yang dinilai sedang mengalami kemunduran.
Dalam pernyataan sikapnya, Aktivis Anak Bangsa menyoroti dugaan penyalahgunaan wewenang oleh Rektor UPI yang dianggap telah mencederai kepercayaan civitas akademika, serta merusak marwah institusi sebagai kawah candradimuka bagi para pendidik.
Mereka menegaskan, kekuasaan yang tidak terkontrol merupakan pintu masuk bagi praktik korupsi dan otokrasi.
Massa aksi membawa lima tuntutan krusial sebagai upaya penyelamatan institusi.
“Kami menuntut Pembentukan Tim Investigasi Independen, Mendesak keterlibatan pihak eksternal seperti Kemendikbudristek serta perwakilan mahasiswa dan dosen untuk mengusut tuntas kebijakan administratif maupun finansial secara transparan,” kata orator dalam aksi tersebut.
Selain itu, mereka juga menuntut keterbukaan atas seluruh kebijakan strategis, termasuk seleksi pejabat dan manajemen anggaran non akademik sesuai UU Keterbukaan Informasi Publik.
“ Kami juga mendesak Dewan Kehormatan Universitas untuk segera menyidangkan secara etik, Rektor atas dugaan pelanggaran kode etik jabatan,” imbuh para orator dalam aksi tersebut.
Massa juga menuntut Rektor UPI untuk mundur dari jabatannya jika nantinya terbukti secara sah melakukan penyelewengan wewenang.
“Kami juga Menuntut peninjauan kembali aturan internal yang memberikan kekuasaan absolut kepada Rektor guna menciptakan mekanisme check and balances yang sehat,” ungkap para aktivis.
Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal Aktivis Anak Bangsa, Dena Hadiyat, dalam orasinya menegaskan, gerakan ini merupakan bentuk kecintaan terhadap Bumi Siliwangi.
“Aksi yang kami lakukan hari ini bukanlah bentuk serangan personal kepada individu tertentu, melainkan murni upaya kolektif untuk menyelamatkan integritas UPI dari praktik-praktik yang tidak sehat. Sebagai institusi pendidikan, integritas adalah harga mati yang tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan kelompok mana pun. Jika transparansi tetap ditutupi, kami berkomitmen untuk melakukan eskalasi gerakan yang lebih masif hingga keadilan ditegakkan,” kata Dena.
Aktivis Anak Bangsa menutup pernyataan mereka dengan menekankan bahwa kebenaran tidak akan mati dan akan terus disuarakan hingga ada perubahan nyata dalam sistem pengawasan di lingkungan kampus. (*)






