Tak Dapat Dukungan Cabor yang Sudah ‘Dibooking’, 6 Balon Ketum KONI KBB Kibarkan Bendera Putih

Bakal calon Ketum KONI KBB Fajar Taufik mengaku harus bersusah payah mengumpulkan dukungan cabor hingga injuri time penutupan pendaftaran oleh tim penjaringan, Sabtu (20/11/2021) pukul 13.00 WIB. Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Enam bakal calon Ketua Umum (Ketum) KONI Kabupaten Bandung Barat (KBB) tidak mengembalikan berkas formulir pendaftaran hingga hari terakhir penutupan pendaftaran Sabtu (20/11/2021) pukul 13.00 WIB.

Hanya tiga kandidat bakal calon yang tercatat memgembalikan berkas ke tim penjaringan balon Ketum KONI KBB. Mereka adalah Wakil Ketua Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Jabar, Yakub Anwar Lewi, Mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jabar, Yudha M Saputra, dan perwakilan dari kalangan muda Fajar Taufik.

“Hingga pendaftaran ditutup hari ini, pukul 13.00 WIB, hanya ada tiga bakal calon dari sembilan, yang berkas pendaftarannya dikembalikan ke kami,” kata Ketua Tim Penjaringan Balon Ketum KONI KBB, Asep Dedi Setiawan kepada wartawan, Sabtu (20/11/2021).

Menurutnya berdasarkan kuota dukungan cabor yang diserahkan oleh bakal calon ke pihaknya, untuk Yakub Anwar Lewi ada 12 dukungan cabor, Yudha M Saputra 37 cabor, dan Fajar Taufik 10 cabor. Berikutnya tahapan yang akan dilakukan adalah verifikasi berkas yang akan dilakukan pada tanggal 22-30 November 2021.

Balon Ketum KONI KBB Yudha M Saputra yang mendapatkan dukungan 37 cabor dan menjadi satu-sayunya balon yang mendapatkan dukungan lebih dari 50% cabor. Foto/Istimewa

Salah satu bakal calon yang menyerahkan berkas di hari terakhir Fajar Taufik mengatakan, mengembalikan formulir persyaratan dan berkas dukungan cabor yang harus didapatkan dengan susah payah hingga injuri time sesuai aturan panitia. Mengingat 49 dari total 61 cabor yang tercatat di KONI KBB sudah memberikan dukungan kepada dua bakal calon lain.

Dirinya juga merasa terkejut karena hanya dalam hitungan hari pendaftaran dibuka oleh panitia, sejumlah cabor saat didatangi untuk diajak konsolidasi ternyata sudah mendukung salah satu bakal calon. Disadari jika sejumlah bakal calon telah melakukan ‘curi start’ dengan menggalang dukungan sejak jauh-jauh hari.

“Bagi saya bicara KONI adalah harga diri pribadi, prestasi, dan daerah. Karena terlanjur daftar dan maju, maka pantang bagi saya untuk menyerah,” tegasnya.

Motivasinya ingin menahkodai KONI KBB karena ini memajukan olah raga di KBB. KONI adalah kawah candradimuka pahlawan baru, sebab di zaman sekarang ketika ada atlet yang bisa juarai diajang nasional bahkan internasional maka mereka akan menjadi seorang pahwalan. Untuk itu semua stakeholder harus sinergi dan jangan ada dusta diantara atlet, pengurus, dan cabor.

Pengalaman masa lalu dimana KONI KBB sempat masuk pusaran hukum yang saat ini belum jelas bagaimana kelanjutannya, harus jadi pelajaran. Benang kusut itu harus dibenahi, jangan jadi beban atlet atau jangan ada pengurus yang sudah terlalu lama di KONI KBB pada akhirnya seperti merasa memiliki.

“Masa lalu jangan dilupakan dan masa depan harus dikejar. Mari bangun KONI KBB dengan itikad yang baik, frekuensi yang sama, dan tekad untuk maju,” tutur aktivis anti korupsi ini.

Sementara bakal calon yang tidak mengembalikan berkas formulir pendaftaran, Kukuh Wiguna menilai, ada kejanggalan terhadap mekanisme perekrutan bakal calon Ketum KONI KBB. Hal ini terkait dengan syarat dukungan cabor 20% atau setara dengan 12 cabor. Pasalnya saat dirinya melakukan konsolidasi, ternyata banyak cabor yang sudah menjalin kesepakatan dengan salah satu bakal calon.

“Di KBB ada 61 cabor dan 50% sudah menyatakan dukungan jauh-jauh hari ke salah satu bakal calon. Bagaimana bisa 24 cabor sisa harus diperebutkan 8 bakal calon, makanya pasti banyak yang tidak kebagian dukungan seperti saya,” keluhnya.

Menurutnya, sebagai pendaftar pertama, idealnya dirinya yang  lebih dulu mendapatkan informasi baik itu syarat maupun ketetapan. Tapi faktanya 50% lebih dukungan sudah tertuju pada salah satu calon. Sehingga dengan waktu tujuh hari untuk mendapatkan dukungan 12 cabor, disaat banyak cabor sudah menjalin kesepakatan dengan salah satu balon adalah hal yang sangat mustahil.

“Dunia olahraga itu menjunjung tinggi sportivitas, bagaimana bisa itu terjadi kalau mekanisme pemilihan calon ketua yang akan mengurus olahraga saja diawal-awal tahapannya sudah mencederai nilai-nilai sportivitas,” ucapnya.

Bakal Calon Ketum KONI KBB Yakub Anwar Lewi saat menyerahkan formulir pendaftaran ke tim penjaringan dengan didukung 12 cabor. Foto/Istimewa

Terkait hal tersebut, akademisi sekaligus pengamat politik dan pemerintahan Djamu Kertabudi menilai, proses pendaftaran dan pemilihan Ketum KONI KBB kali ini memang cukup terbuka dan mendapatkan perhatian dari kalangan luas. Terbukti dengan adanya sembilan bakal calon yang mengambil berkas formulir pendaftaran dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda.

Yang jadi salah satu perhatian dalam prosesnya adalah adanya persyaratan bakal calon yang harus memiliki dukungan pimpinan cabor sekurang-kurangnya 20% dari cabor yang terdaftar di KONI KBB. Hal itu tentu menjadi pekerjaan berat bagi sembilan bakal calon yang harus bisa menggaet 12 cabor dari total 61 cabor yang ada di KBB. Sehingga secara hitungan matematis maka akan ada bakal calon yang pasti tidak akan bisa memenuhi kuota persyaratan tersebut.

Faktanya ada seorang kandidat yang mendapatkan dukungan cabor sebanyak 37 atau lebih dari setengah cabor yang ada. Dengan demikian, saat kandidat lainnya yang mulai melakukan upaya dukungan cabor setelah pengumuman resmi dari KONI KBB, sudah barang tentu menemui kesulitan. Pada akhirnya, hanya tiga orang yang mengembalikan formulir pendaftaran disertai naskah dukungan dari pengurus cabor.

Namun dua dari tiga pendaftar yanh dukungan cabornya pas-pasan, belum tentu lolos dari verivikasi administratif. Mengingat ada ketentuan bahwa apabila terdapat dukungan ganda dari pengurus cabor maka dukungan tersebut akan dicoret, dan dinyatakan tidak berlaku. Sehingga tidak menutup kemungkinan hal ini terjadi pada kedua pendaftar ini.

Maka dengan sendirinya yang satu kandidat akan “lenggang kangkung” sebagai calon tunggal dan dipilih secara aklamasi. Tanda-tanda seperti ini sudah tampak saat ketiga kandidat ini mengembalikan formulir pendaftaran. “Semua pihak sangat berharap, bahwa proses pemilihan Ketum KONI KBB berjalan fair dan demokratis, tanpa ada tindakan apapun yang dapat mencederai nilai-nilai demokrasi seperti halnya terjadi di periode sebelumnya,” imbuhnya.

Seperti yang diketahui mereka yang mengambil formulir pendaftaran calon Ketum KONI KBB periode 2021-2025 ini berasal dari berbagai profesi. Mulai dari politisi, mantan birokrasi, pengusaha, hingga Plt Ketua KONI KBB saat ini. Mereka adalah Kukuh Wiguna, Rudy Krisdianto, Sukma Bintaro, Yacob Anwar Lewi, Udis Supriatna, Yudha M Saputra, Thio Setiowekti, Lili Supriatna, dan Fajar Taufik. (*)

Editor : Rizki Nurhakim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *