Warga RW 12 Desa Jayamekar Padalarang Banjir yang Melanda Daerahnya, Biang Keroknya Proyek Perumahan The Emeralda Resort

Puluhan warga Desa Jayamekar Kecamatan Padalarang KBB, memblokir jalan masuk ke lokasi proyek perumahan elit The Emeralda Resort, Sabtu (19/04). Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Warga yang berada di wilayah  Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat menggeruduk lokasi proyek perumahan elit The Emeralda Resort, Sabtu (19/04).

Masyarakat menilai pembangunan hunian di puncak gunung Kacapi tersebut jadi biang kerok langganan bencana banjir tatkala hujan turun.

Warga  dengan secara spontan menutup akses jalan menuju proyek perumahan dan meminta seluruh kegiatan penggalian serta pengurugan (cut and fill) dihentikan sementara.

Mereka menuntut pihak perusahaan bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan serta segera membenahi saluran air.

Pantauan di lokasi, gerbang masuk The Emeralda Resort diblokade memakai bambu, rantai, serta traffic cone. Aktivitas pengangkutan truk dan alat berat tak bisa ke lokasi proyek.

Sekitar puluhan warga ikut menjaga blokade itu agar tak dibuka.

“Kami secara spontan mendatangi proyek perumahan untuk stop sementara kegiatan. Kita minta perusahaan membenahi saluran air karena tiap hujan selalu banjir,” kata Hidayat, 60 tahun, saat ditemui di lokasi.

Luapan air dari puncak gunung Kacapi tersebut membawa air bercampur lumpur tanah merah masuk ke pemukiman masyarakat yang berada di bawah lokasi proyek perumahan The Emeralda Resort.

Limpasan air banjir itu berdampak terhadap 12 RW di Desa Jayamekar, di antara Perumahan Binakarya, Perumahan Regenerasi, pemukiman warga Kampung Gunungbentang, serta Kampung Gantungan. “Jadi yang terdampak banjir itu ada 12 RW.

Kami meminta pengembang bertanggung jawab. Karena keluhan masyarakat ini sudah beberapa kali disampaikan agar benahi saluran air, tapi tak pernah digubris,”ujar Hidayat.

Tadinya warga tak berniat menutup permanen aktivitas proyek perumahan The Emeralda Resort, apalagi jika pengembangan sudah mengantongi izin.

Mereka mendukung kegiatan investasi asalkan mentaati kaidah-kaidah lingkungan.

“Kami mendukung investasi, jadi penutupan ini sementara tidak permanen. Kami ingin ada kejelasan dulu tanggung jawab dari dampak lingkungan,” ungkapnya.

Sementara itu menurut, Hendar 41 tahun, warga Kampung Gunung Bentang RT01, RW14, Desa Jayamekar mengatakan banjir kerap terjadi sejak 2 tahun terakhir adanya aktivitas pematangan tanah di puncak Gunung Kacapi.

Terbaru banjir dan lumpur melanda puluhan pemukiman, pada Jumat (18/04).

“Kejadian banjir terbaru kemarin pukul 16:00 WIB. Air dan lumpur merah masuk jalan dan rumah. Ketinggian air antara 10-15 centimeter tapi deras. Selain itu tanah merah sangat tebal jadi sulit dibersihkan,” jelas Hendar.

Menurutnya, pihak perusahaan beberapa kali menawarkan kompensasi kepada warga, namun Hendar menolaknya karena keinginannya justru pengembangan membenahi mitigasi banjir.

“Saya gak mau kompensasi, benahi jalan air. Jangan cuma cari keuntungan, tolong perhatikan lingkungan,” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *