Tampil di Atrium Ciwalk, Musisi Keroncong Muda Kota Bandung, Curi Perhatian Pengunjung

Foto/BANDUNGSATU.COM
Foto/BANDUNGSATU.COM

KOTA BANDUNG, BANDUNGSATU.COM – Keroncong adalah salah satu warisan budaya yang sampai saat ini masih tumbuh di masyarakat. Meski musiknya identik dengan suku Jawa, sebenarnya banyak pegiat keroncong yang berasal dari luar suku Jawa. Kelompok Keroncong Tugu Misalnya, mereka justru tumbuh di pesisir pantai Utara Jakarta.

Di Bandung, dimotori oleh komunitas Krontjongers Indonesia, musik keroncong bahkan sudah berakulturasi dengan baik. Tidak hanya berakulturasi, bahkan regenerasi berjalan dengan baik.

Kelompok-kelompok pemusik keroncong dari kalangan muda, tumbuh mulai dari Cicalengka, Kabupaten Bandung  sampai  Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Di Kota Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia melalui Jurusan Seni Musik, memiliki Unit Minat Bakat musik keroncong dengan kelompok musik Lapis Legit.

Kelompok musik keroncong Lapis Legit bahkan memiliki sub unit kelompok-kelompok musik keroncong lainnya. Salah satunya adalah kelompok musik Puskesmas Lapis Legit, yang tampil memukau para pengunjung Cihampelas Walk, Selasa malam (24/09).

Didapuk dalam sebuah show yang disiarkan langsung oleh salah satu radio di Kota Bandung, Keroncong Puskesmas Lapis Legit, tampil memukau para pengunjung Ciwalk yang melintas di Atrium mall di Jl.Cihampelas tersebut.

Para musisi yang berusia 18 sampai 20 tahun ini membawakan lagu-lagu yang sangat dikenal oleh anak-anak muda seusianya.  Tak heran, para pengunjung yang sedang berbelanja mampir sejenak menyaksikan penampilan grup musik keroncong anak muda tersbut. Sejumlah pengunjung bahkan ikut larut dalam lantunan lagu-lagu yang dibawakan Keroncong Puskesmas Lapis Legit.

Aktifis komunitas  Krontjongers Indonesia, Ganang Partho, yang malam itu didapuk menjadi produser acara mengatakan, bahwa keroncong, seperti musik yang lain, masih bisa menghibur dan bisa mendapat tempat di kalangan anak muda.

Namun, Ganang memberikan catatan, bahwa keroncong harus terues beregenerasi dan juga beradaptasi dengan perkembangan zaman. Salah satunya dengan memainkan lagu-lagu kekinian.

”Apakah keroncong bisa menjadi hiburan dan tontonan? Kali ini dipastikan bisa. Tetapi disesuaikan juga, bagaimana audiensnya.  Kalau audiensnya anak-anak muda, tentu banyakain lagu-lagu anak muda,” ungkap Ganang.

Ia juga mengatakan untuk mengenalkan kekhasan keroncong, selain memainkan lagu-lagu kekinian, lagu-lagu yang sesuai dengan pakem keroncong pun tetap disisipkan, agar  anak-anak muda juga paham dan mengenal bagaimana lagu-lagu keroncong asli.

”Kuncinya bagi saya hanya satu, yaitu regenerasi. Jadi bukan hanya melestarikan, tapi juga mengembangkan. Tapi yang lbih penting lagi adalah  yaitu adalah, mewariskan. Sebab, kesenian ini kan harus juga mengikuti juga kan bagaimana kebudayaan manusianya,” jelas Ganang.

”Jadi jika kebudayaannya tidak tertata ulang, nanti akan tertahan pada satu titik tertentu. Misalnya keroncong identik dengan jadul. Nah kita yang harus bisa meperbaharui,” imbuh Ganang.

Ganang juga mengungkapkan bahwa tren menampilkan musik di ruang-ruang publik sejak ia mulai di tahun 2007, sampai saat ini memiliki respon yang baik di Jawa Barat. Tak jarang anak muda berbaur dengan orangtua menikmati sajian musik yang umumnya dimainkan secara akustik ini.

Ganang pun berbagi pengalaman, ketika ia bersama Kerntjongers Indonesia dan musisi keroncong lainnya tampil di Solo Keroncong Festival, sambutan publik sangat luar biasa. Tidak ada sekat umur dan latar belakang penikmatnya.

”Kita pernah tampil di Solo Keroncong Festival, penontonya muda, dewasa, orangtua, dari luar negeri ada, dari mana pun ada. Di Bandung sendiri, selam itu ada pagelaran musik yang bisa mengikuti tren, yang sesuai kebutuhan dari penggemarnya atau penikmatnya, atau siapa pun yang lalu lalang pada  sebuah tempat, saya rasa responnya sangat bagus. Hari ini masih ada beberapa anak muda juga yang menyaksikan kegiatan kita. Bahkan mereka juga berinteraksi dengan penyanyinya atau berinteraksi dengan kita para penggiat keroncong,” pungkas Ganang. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *