Siswa Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis Cipongkor Harus Bayar Biaya Sendiri Perawatan Medis di RSUD Cililin

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cililin milik Pemerintah Daerah Bandung Barat. Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Orantua siswa korban keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Cipongkor merasa kecewa atas penanganan medis yang diberikan pada putra putri mereka saat peristiwa terjadi.

Sebagian orangtua mengadukan soal beban pembayaran perawatan korban keracunan yang harus mereka tanggung.

Salah satu kerabat korban keracuan MBG,  Haji Uci Samsidar mengadu pada para pewarta bahwa orangtua korban  harus mengeluarkan sejumlah uang untuk perawatan anaknya yang ikut jadi korban keracunan massal tersebut.

”Masalahnya ketika peristiwa terjadi anak saya dibawa ke Puskesmas Cipongkor. Karena tidak ada BPJS, Puskesmas hanya memberi obat dan anak disuruh pulang. Karena kondisi anak saya sudah repot, ya dibawa lah ke Rumah Sakit Cililin. Di sana disurah daftar Rp. 90.000,” kata Uci, Senin (29/09)

Pihaknya merasa kecewa, karena meski tidak memiliki BPJS ia berfikir bahka keracunan tersebut adalah kejadian luar biasa, sehingga semestinya biaya perawatan para korban ditanggung oleh Pemerintah.

”Karena tidak ada BPJS dimasukan ke umum, jadi otomatis harus bayar. Nah rasa tanggung jawab Pemerintah di mana? Ini kan keracunan, bukan penyakit biasa. Harusnya dibiayai oleh Pemerintah,” tegas Uci.

”Sekarang dirawat, Obat juga beli sendiri. Masuknya juga ke umum, jadi harus bayar, karena tidak punya BPJS,” imbuh Uci.

Uci menegaskan bahwa peristiwa semacam ini tentu bukan kehendak dari para siswa, pun bukan penyakit yang diderita. Sehingga Pemerintah harus bertanggung jawab secara penuh.

”Ya minimal harus ada rasa tanggung jawab, kan ini mah bencana dari kelalaian Pemerintahnya sendiri. Sudah anaknya tidak mampu, jadi korban juga orangtuanya harus keluar materi,” keluh Uci.

”Saya memohon pada Pemerintah Daerah, bisa nggak untuk menindak lanjuti, masalah orang yang jadi korban ini. Jangan sampai mengeluarkan biaya,” harap Uci.

Sementara itu keracunan massal di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kembali terjadi pada Senin 29 September 2025.

Korban meninmpa puluhan siswa dari dua sekolah madrasah yang disebut mengalami gejala mual, sesak napas, hingga kram perut sehingga harus ditangani oleh tenaga medis di Puskesmas Cipongkor.

Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah, mengonfirmasi bahwa para korban keracunan kembali berdatangan sejak akhir pekan hingga Senin (29/09).

“Yang keracunan hari Selasa itu berasal dari MTs Muslimin Cipongkor dan MI Attarbiyah Cipongkor,” ujar Yuyun.

Menurutnya, kasus pertama muncul pada Sabtu sore dengan jumlah 26 siswa. Namun, jumlah korban terus bertambah pada Minggu setelah beberapa siswa dialihkan dari posko GOR Cipongkor ke Puskesmas untuk perawatan lebih lanjut.

“Gejala yang dialami siswa rata-rata mual, sesak napas, dan kram perut. Saat ini mereka ditangani di bagian fonese oleh tim medis,” jelasnya.

Yuyun menegaskan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada siswa dan orang tua. Ia menekankan pentingnya menjaga pola makan serta gaya hidup anak agar tidak mudah terserang penyakit.

Sebagai langkah penanggulangan, kata Yuyun, tim medis di Puskesmas Cipongkor melakukan pemeriksaan dokter secara menyeluruh serta memberikan obat sesuai dengan keluhan pasien. Hingga berita ini diturunkan, korban masih terus berdatangan ke Puskesmas untuk mendapat perawatan.

Sementara itu dari peristiwa sebelumnya, tercatat sebanyak 1.309 orang lebih menjadi korban keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ternyata keracunan ini disebabkan oleh bakteri. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *