BANDUNGSATU.COM – Menyusul sidak yang dilakukan KDM ke pabrik pengolahan kapur di Padalarang dan Cipatat, diketahui SD Negeri Sunan Giri, di Kampung Pojok, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pun terganggu pabrik pengelohan kapur di sekitarnya.
Para guru dan murid menyebut debu-debu kerap kali menyelimuti area sekolah, menempel pada meja belajar, hingga properti guru seperti printer.
Guru Kelas 6 SD Negeri Sunan Giri, Inas Weis Suwardi mengatakan, jarak sekolah ke pusat pengolahan kapur kurang dari 200 meter. Bahkan, gerbang sekolah berseberangan langsung dengan area belakang perusahaan.
“Sekolah ini memang berdekatan dengan perusahaan yang memang saat ini sedang hangat dibicarakan. Memang dampak sangat dirasakan, debu itu ada dan memang nyata, di ruang kelas, di depan dimanapun ada debu. Di meja, di kaca, ada di printer guru juga,” kata Inas, Rabu (22/07).
Meski sering terpapar debu, keseharian aktivitas belajar mengajar di SD Negeri Sunan Giri terlihat normal. Anak-anak sekolah tetap riang gembira saat bermain di halaman sekolah.
Mereka terlihat leluasa berlarian bersama teman-temannya tanpa menunjukkan adanya gangguan. Di antara mereka, tak terlihat ada yang menggunakan masker.
Inas pun mengatakan, sejauh ini, polusi debu tidak berdampak pada gangguan aktivitas belajar mengajar di sekolah.
“Kami sebagai sebuah instansi mau tidak mau kami berkewajiban menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Alhamdulilah sampai saat ini berjalan tanpa kendala apapun,” ungkap Inas.
Inas menuturkan, SD Negeri Sunan Giri terus berkoordinasi dengan Puskesmas setempat untuk melakukan pengecekan kesehatan secara berkala terhadap peserta didik. Sejauh ini, pihak sekolah belum menerima laporan resmi adanya anak sekolah yang mengalami Ispa akibat dari polusi debu.
“Keluhan kesehatan, sejauh ini tidak ada anak yang berpenyakit dari kandungan debu, kami sangat memerhatikan bahwa yang sekolah di sini adalah warga saat ini. Cek kesehatan berkala dengan Puskesmas Tagogapu tidak ada anak yang berpenyakit seperti Ispa,” jelas Inas.
Meski begitu, Inas berharap polusi debu dapat ditekan seminimal mungkin oleh pihak-pihak terkait maupun pihak yang memiliki otoritas.
Inas tidak menolak fakta, bahwa polusi udara akibat debu kapur berpotensi mengganggu kesehatan peserta didik hingga berakibat pada terganggunya proses belajar mengajar di SD Negeri Sunan Giri, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat.
“Mudah-mudahan ke depan bisa dikurangi (polusi debu), atau bahkan dihilangkan, jadi anak-anak yang disekolahkan di sini bisa lebih nyaman dan terjamin kesehatannya,” pungkasnya.
Sementara itu sejumlah emak-emak di RT 01 RW 11 Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyuarakan keluh-kesah yang sama, imbas polusi debu dari pengolahan kapur tohor.
Menurut mereka, debu tak hanya mengotori rumah tapi juga membuat anak mereka batuk dengan durasi yang lama.
“Kebul ini jangan sampai separah ini ke kita, kesehatan anak saya batuk terus tidak sembuh-sembuh, terus gatal-gatal. Ini (polusi debu kapur) lebih dari ambang batas,” kata perwakilan emak-emak, Ratu, Rabu (22/07).
Ratu begitu khawatir terhadap potensi gangguan kesehatan akibat polusi debu pengolahan kapur. Dalam jangka panjang, mereka khawatir terjadi gangguan kesehatan yang lebih serius yang dialami warga setempat.
Kekhawatiran itu semakin besar karena tidak adanya pemeriksaan rutin yang dilakukan petugas kesehatan kepada warga.
“Ya pasti khawatir, apalagi tidak ada (pemeriksaan kesehatan, red), sampai saat ini belum ada. Pengennya minimal sebulan sekali, kalau seminggu sekali kayanya mereka kerepotan, cek kesehatan kami. Anak saya batuk dicek, kita tidak muluk-muluk,” ujarnya.
Ratu juga mengatakan, tempat tinggal mereka diapit dan berbatasan langsung dengan perusahaan pengolahan kapur. Akibatnya, debu tebal kerap menyelimuti tempat tinggal mereka.
“(Tempat tinggal, red) Kita ibarat mangkok, lingkaran, kita di tengah. Bersihin rumah itu, minimal 3 kali, pagi, siang sama sore, terus malem juga pas mau tidur. Repot,” tegasnya.
Warga sendiri mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Barat yang melakukan inspeksi mendadak terhadap sejumlah perusahaan pengolahan kapur.
Ratu menegaskan, selain menyelimuti jalanan, permukiman merekalah yang sebenarnya lebih terdampak debu hingga gangguan kesehatan.
“Pak Dedi jangan di jalan terus, di pinggir masuk ke kami, ke kampung kami, jangan luarnya saja. Yang salju bukan di luar sebenarnya, tapi di dalam (kampung, red) sini,” katanya.
Ratu berharap persoalan polusi debu yang berdampak buruk dapat segera diatasi oleh pihak yang memiliki otoritas. Ia menambahkan, pengolahan kapur tidak hanya menimbulkan debu ekstrem, tetapi juga menimbulkan suara bising yang mengganggu jam istirahat di malam hari.
“Kurangi ini kebul nya, bagaimanapun caranya, tidak mungkin kita menutup pabrik, tapi harus ada solusi debu. Kebisingan, kami emak-emak kegiatan banyak, sakit banget kepalanya ini (karena ada bising dari perusahaan), kita butuh istirahat, minimal jangan 24 jam,” pungkas Ratu. (*)






