BANDUNGSATU.COM – Pelaksanaan hari ke dua Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Batujajar Selasa (14/1/), ditinjau Penjabat (Pj) Bupati Bandung Barat Ade Zakir Hasyim. SD tersebut adalah Salah satu lokasi dari 9 sekolah yang mendapat distribusi di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berdasarkan data dari Badan Gizi Nasional sebagai penanggungjawab, di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tersedia satu unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum, untuk tahap awal Program MBG yang berlangsung secara nasional. Setiap SPPG akan menyediakan sebanyak 3.500 porsi.
Ade Zakir meninjau SDN 1 Batujajar didampingi oleh sejumlah Kepala SKPD Bandung Barat dan Dandim 0609 Cimahi.
Rombongan disambut oleh puluhan siswa, orang tua serta para guru. Adapun menu yang disediakan pada hari kedua nasi, ayam kecap, tempe, sayur buncis, salad, pisang dan minuman kemasan.
“Di Bandung Barat dapurnya baru ada satu dapur, sekaligus pendistribusian dan pelayanannya. Kelompok sasarannya ada 3.500 penerima. Dalam menu memang hari ini tidak ada susunya karena ternyata diberikan satu minggu dua kali,” kata Ade Zakir.
Makanan itu dibagikan mulai dari kelas 1-6 SDN 1 Batujajar, dengan rincian 544 siswa. Sementara di SDN 2 Batujajar ada 475 siswa dan 507 di SDN 3 Batujajar. Sisanya untuk sekolah lain, ibu hamil dan santri.
“Kebanyakan siswa SD, ada juga dari pesantren dan ibu hamil,” ungkap Ade.
Makan Bergizi Gratis bukan hanya disambut oleh siswa melainkan juga para orang tua. Berdasarkan keterangan dari mereka, disebutkan Ade Zakir sangat membantu karena tidak perlu menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya. Mereka juga tidak perlu khawatir dengan kandungan gizi yang ada di setiap porsinya.
“Lalu saya diskusi dengan orang tua siswa mereka menyambut gembira. Bahkan di SDN 1 dan 3 Batujajar ini mereka (Ortu Siswa) ikut ngangkut membantu saat menu MBG datang,” kata Ade Zakir.
Guna mengakomodir seluruh siswa sekolah dasar yang ada di Kabupaten Bandung Barat dalam Program Makan Bergizi Gratis tersebut, Ade Zakir telah memproyeksikan sekitar 80 SPPG. Namun demikian masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat. Mengingat Pemerintah Kabupaten hanya memonitoring agar MBG berjalan lancar dan sesuai rencana.
“Untuk tahap pertama tentu kami mengikuti target yang ditetapkan oleh pusat ada satu dapur melayani 3.500 penerima. Tapi memang ini sepenuhnya dari pusat. Di Bandung Barat siswa ada 240 ribu. Kalo misalkan satu dapur 3.000 porsi, berarti kurang lebih membutuhkan 80 dapur untuk mengakomodir semuanya,” jelas Ade Zakir.
Ia optimis bisa memenuhi target pelaksanaan MBG hingga kewilayahan pelosok Bandung Barat. Terutama di wilayah selatan yang membutuhkan perlakuan khusus. Mengingat beberapa diantaranya sulit diakses.
“Ya harus, nanti mungkin disesuaikan dengan wilayah karakter Bandung Barat. Batujajar ini kan wilayah perkotaan, mungkin nanti wilayah selatan ada perlakuan khusus. Yang pasti kita dukung program MBG ini dan saya yakin kalau saya cek dan lihat ini siswa senang. Tapi memang masih menunggu dari pusat,” katanya.
Sementara itu soal sampah di dapur dari MBG atau food waste, Ade Zakir mengakui masih dalam pembicaraan dengan beberapa pihak terkait.
“Itu nanti kita rundingkan, terutama sampah yang ada di tempat makan itu nanti ditarik. Tapi kalau melihat ternyata setelah memasak. Alat masaknya itu langsung dicuci lalu 24 jam beroperasi,” imbuhnya.
Ade Zakir juga mengungkapkan, pihaknya senang melihat antusias dari para siswa. Namun ia mengingatkan kepada SPPG agar tidak hanya mementingkan kandungan gizi nya saja, tapi di setiap menu harus disesuaikan untuk memikat siswa dalam menyantap makanan.
“Saya sudah keliling dan cek alhamdulilah anak-anak seneng dan gembira. Hanya saja ada yang tidak disukai oleh anak-anak yaitu sayur. Mereka kurang menyukai sayur. Nanti mungkin metodenya seperti apa nanti akan kami diskusikan. Dengan SPPG. Karena para orang tua berharap program MBG ini terus berlanjut,” tandasnya.
Di lokasi yang sama, Kepala SPPG Batujajar Gilang Prakoso mengatakan untuk pemilihan menu ini pihaknya sudah melibatkan ahli gizi. Sehingga menu makanan yang diberikan kepada siswa maupun ibu hamil tentunya disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing.
“Gizi ini kita memang memiliki ahli gizi sehingga memang dasar dasar pembuatan disesuaikan dengan MBG setiap kelasnya beda-beda. Jadi ada golongan, dan penggolongan itu gizi dipenuhi sesuai dengan tingkat dari siswanya itu sendiri,” katanya.
Sementara itu Alfian siswa kelas 6 SDN 1 Batujajar mengaku suka dengan menu yang disajikan. Meskipun tampaknya ia kurang puas, karena tak mendapatkan susu serta tak ada variasi buah-buahan. Hal ini terlihat dari makanan yang ia dan teman-temannya sisakan.
“Seneng dikasih makan siang. Terus makannya barengan sama yang lainnya jadi seru. Kenapa sayurnya gak dihabiskan? Gak terlalu suka sayur, salad nya juga. Terus gak ada susu juga,” kata Alfian.
Program MBG di Kabupaten Bandung Barat perdana dilaksanakan pada Senin (14/1). Selain SDN Batujajar 1, SDN Batujajar 2, SDN Batujajar 3, juga meliputi SDN Cibungur 2 Batujajar, SDN Cibungur 1, SDN Jalantir, SDN Batujajar 1, SDN Batujajar 2, SDN Batujajar 3, SDN Galanggang 3, SDN Sinarjaya, SDN Dar Al Iman. Selain sekolah, MBG juga diberikan terhadap ibu hamil sebanyak 56 orang dan pondok pesantren (Ponpes) At-Tafsir sebanyak 84 santri. (*)






