Penyelusuran Kepsek SMK Kesehatan Rajawali, Belum Temukan Indikasi Bully pada Nabila

Foto/Istimewa

BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan Rajawali, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) akhirnya buka suara terkait kasus dugaan aksi bully atau tindak perundungan yang menimpa salah satu siswinya bernama Nabila Fitri Nuraini. Imbas bully, yang diduga dilakukan temannya sendiri, korban disebut mengalami gangguan kejiwaan hingga meninggal dunia.

Kasus bully yang dialami Nabila, menurut orang tuanya, dilakukan oleh salah satu tema sekelasnya berinisial A. Tindakan itu telah berlangsung selama 3 tahun atau sejak mereka duduk di bangku kelas 10 hingga kelas 12.

Perbuatan yang dilakukan A disebut berbentuk hinaan, cacian, paksaan untuk mengerjakan tugas sekolah, hingga diminta menggendong dari toilet ke ruang kelas.

Menurut Kepala SMK Kesehatan Rajawali, Rizki Zaskia Hilmi, pihak sekolah tak pernah mendapat laporan kasus bully tersebut, baik dari Nabila maupun orang tuanya, selama 3 tahun korban mengenyam pendidikan.

“Selama kurang dari tiga tahun masa belajar kami sekolah tidak menerima laporan dari siswa A dan N, kedua orang tua siswa, juga teman-teman siswa terkait bullying,” kata Rizki saat ditemui, Selasa (11/06).

Rizki mengatakan siswa dan orang tua sempat dikumpulkan pada bulan Desember 2023, saat pembagian raport hasil belajar semester 1.

Dalam kegiatan itu, pihak sekolah membuka sesi konsultasi terkait masalah atau kendala yang dialami siswa ataupun orang tua dalam menjalankan pembelajaran. Pada sesi itu, mereka mengungkapkan, tidak ada hambatan apapun.

“Pada agenda pembagian raport di semester 1 bulan Desember tahun 2023, masing-masing orang tua dipanggil untuk pembagian raport hasil akademik sekaligus sesi konsultasi. Hasil penuturan kedua orang tua masing-masing anak baik-baik saja. Kedua orang tua N dan A juga berteman baik karena mereka tinggal di lingkungan desa yang sama,” ujar Rizki.

Menurutnya, pihak sekolah baru mengetahui kasus bully saat Nabila mengalami sakit usai menghadiri acara pagelaran seni 8 Mei 2024, lalu. Kemudian pada tanggal 12 Mei 2024, orangtua Nabila lapor ke wali kelas bahwa anaknya sakit usai dibully oleh temannya, A.

“Tanggal 8 Mei 2024, siswa N izin pulang karena sakit. Terus tanggal 12 Mei 2024, orangtunya melapor ke sekolah bahwa anaknya sakit karena dibully,” jelas Rizki.

Usai menerima laporan itu, pihak sekolah mencoba menggali dan menelusuri laporan tersebut dengan cara meminta keterangan terhadap guru seni, wali kelas dan para temannya.

Hasilnya, sekolah menyimpulkan bahwa Nabila tak pernah berinteraksi dengan A baik secara fisik maupun verbal.

“Jadi setelah kita telusuri, pada tanggal 8 Mei itu N dan A tak pernah interaksi. Untuk menindaklanjuti, kami gelar mediasi antar kedua pihak tanggal 15 Mei 2024, tapi karena kedua pihak masih emosi, mediasi tak berhasil, sehingga diputuskan sekolah untuk terus menggali informasi,” ungkap Rizki.

Tak sampai di situ, pihak sekolah kembali melakukan upaya mediasi antara siswa dan orang tua tanggal 27 Mei 2024. Saat itu siswa Nabila dalam posisi sakit, namun kedua pihak sepakat untuk damai secara lisan. Setelah itu, pada tanggal 30 Mei Nabila dilaporkan meninggal dunia dan kasusnya viral di media sosial tanggal 7 Juni 2024.

Kesimpulannya, lanjut dia, pihak sekolah hingga saat ini belum menemukan adanya bully berupa fisik. Adapun kasus menggendong ketika terjadi di kelas 10 menurutnya itu dilakukan secara bergantian.

“Hasil telusur kami tidak ada yang mengarah ke bullying fisik. Untuk yang menggendong terjadi di kelas 10, setelah kami gali info dari teman-temannya itu dilaksanakan bergantian antara siswa A dan N. Dari sisi verbal kami masih verifikasi apakah candaan yang dulu oleh siswa A apakah menjurus ke bully, kami masih komunikasi dengan Dinas Perlindungan Anak,” tandasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *