BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Penipuan dengan modus melakukan kerja sampingan secara online kembali terjadi. Kali ini menimpa Susi (29) warga Padalarang. Modus yang dilakukan pelaku adalah secara berkelompok menjebak para korban untuk tergabung dalam grup untuk follow atau like dan share sejumlah Aplikasi e-commerce.
“Grup-nya namanya Giveaway. Menggunakan Aplikasi chat yang namanya Criat. Tugasnya hanya follow atau like juga share Aplikasi e-commerce, nanti dapat imbalan,” kata Susi pada Bandungsatu.com, Kamis malam (01/08).
Dari penelusuran Bandungsatu.com, aplikasi Criat adalah aplikasi percakapan yang tidak ditemukan di Ios maupun Google Play. Aplikasi tersebut disebarkan oleh para pelaku penipuan pada target korban melalui Whatsapp saat mengajak bergabung grup yang dinamai Giveaway tersebut.
Fakta lain yang terungkap, nama maupun logo dari aplikasi tersebut bahkan menjiplak fintech yang berkembang di Singapura. Nama asli Criat sendiri sebenarnya berupa situs yang dikembangkan oleh Singapore University dan tidak memiliki aplikasi.
“Setelah menyelesaikan tugas diaplikasi Criat, maka kami dapat imbalan. Yang menarik adalah kami dimintai donasi dengan alasan amal atau misi sosial. Saya sempat berdonasi sebesar 700 ribu rupiah. Eh tahunya malah dapat cashback jadi 900 ribu rupiah,” jelas Susi.
Dari cashback ini, kata Susi, membuat ia tertarik untuk mengikuti tugas lainnya. Apalagi dalam grup WA terpisah banyak member yang menceritakan bagaimana mereka menyumbang 10 juta dan dapat cashback dua kali lipatnya.
Belum lagi saat dari member berubah status menjadi agen (seperti istilah MLM yang memiliki strata tertentu) maka cashback dan give away bisa berubah menjadi lebih besar.
“Di grup itu kita seperti berkompetisi dengan member lain, saat like, share dan follow itu hanya menekan angaka 1, atau 2. Tak jarang kita dianggap tidak on time pada target waktu yang ditetapkan admin grup, jadi kita berlomba untuk saling cepat,” imbuh Susi.
Dengan tidak on time, kata Susi, maka reward dikurangi sehingga para korban jadi lebih semangat untuk bersaing. Sementara untuk mendapatkan reward lebih besar maka harus pula memberi donasi yang lebih besar pula.
Karena sedang butuh uang untuk berbagai keperluan, Susi pun mengeluarkan donasi lebih besar, yaitu Rp 5 juta. Untuk mendapatkan cashback lebih besar dari nilai donasi, maka ia harus melaksanakan tugas berikutnya. Dan Susi Diberi apresiasi berupa kiriman kipas angin.
Namun ternyata ketika melaksanakan tugas berikutnya untuk mendapat cashback dari donasi sebesar 5 juta rupiah itu, saat tugas yang harus dikerjakan diklik, justru tidak bisa. Susi pun tidak mendapat poin sehingga harus berdonasi dengan jumlah yang sudah ditetapkan admin yaitu 40 juta rupiah.
Di sini lah ia baru sadar bahwa ia terkena penipuan. Susi berusaha mengkonfirmasi soal sulitnya grup Criat diakses untuk melaksanakan tugas dan meminta uang yang 5 juta rupiah dikembalikan, namun admin dengan nad marah justru meminta Susi transfer donasi sebesar 40 juta rupiah tersebut.
“Modusnya begitu, dugaan saya ketika tugas tidak bisa diklik memang sudah diprogram sehingga mereka bisa menjatuhkan hukuman dan uang saya yang 5 juta gak bisa diberikan cashback. Malah mereka menuntut transfer yang lebih besar,” jelas Susi.
Dari penelusuran nomor rekening untuk transfer donasi, atas nama JG, diketahui rekening tersebut dikeluarkan oleh salah satu cabang bank pembantu (KCP) yang beralamat di Lapangan Merdeka, Medan, Sumatera Utara.
Criat sendiri saat dicoba untuk diinstall, justru ada warning yang menyatakan bahwa aplikasi tersebut berbahaya.
Penipuan semacam ini ternyata banyak juga ditemui di aplikasi lain. Aplikasi tiktok, Whatsaap dan Telegram tidak luput jadi sarana para penipu menjalankan aksinya.
“Ada yang mirip gitu sih. Bedanya yang dilike, follow atau share buka e-commerce, tapi video dari akun tiktok tertentu. Selebihnya soal reward dan donasi sama,” kata Anton, warga Jl. Pajajaran, Kota Bandung, Kamis malam (01/08).
“Pokoknya kalau diantara reward itu ada pungutan, dengan alasana nanti dapat cashback atau hadiah, jangan mau lah. Itu pasti penipuan,” imbuh Anton.
Mahasiswa jurusan perangkat lunak sebuah perguruan tinggi di Bandung itu juga mengatakan, aplikasi apa pun jika menawarkan reward finansial yang besar dan tidak sebanding dengan apa yang dikerjakan, sebaiknya tidak perlu dipercaya.
“Gak ada lah nyari duit yang besar dengan cara mudah cuma pencat pencet hape. Itu sih gak rasional. Gak usah dipercaya,” pungkas Anton. (*)






