BANDUNGSATU.COM – Paguyuban Pengusaha Lokal (PPL), KBB memperingati hari jadi ke 19 Kabupaten Bandung Barat mengadakan pameran tumpeng dengan jumlah 19 buah dan menyantuni anak yatim piatu sebanyak 119 orang sebagai simbol hari jadi KBB yang ke 19. Sementara untuk angka satu, ditafsirkan bahwa Kabupaten Bandung Barat selalu nomor satu dari berbagai aspek. Selain itu momentum HUT ke 19 KBB dijadikan momentum pengukuhan paguyuban pengusaha lokal, agar keberadaannya bisa memberikan ruang untuk ikut dalam membangun KBB yang lebih maju ke depannya.
Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati KBB, Asep Ismail dan Sekretaris Daerah KBB, Ade Zakir
Ketua paguyuban Pengusaha lokal KBB, Mochamad Ilyas Lamba didampingi Sekretarisnya, Eman Sulaeman, mengatakan 19 tumpeng tersebut adalah makna semakin dewasanya KBB. Ia juga mengatakan pembuatan tumpeng sebanyak itu merupakan kolaborasi bersama Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Kabupaten Bandung Barat.
“Pemerintahan KBB mudah-mudahan bisa lebih baik, seperti itu. Saya ada visinya, mungkin saya akan mengajak semua para pengusaha, baik kelas menengah, kelas kecil besar, kami akan mengajak semua, khususnya para pengusaha, UMKM, perhotelan, kontraktor, ataupun industri, semua yang ada di Kabupaten Bandung Barat, untuk kita bersatu semua,” kata Ilyas.
Partisipasi yang diberikan oleh paguyubannya ditujukan agar Pemerintahan KBB bisa berkembang dan bisa lebih maju dan bisa membantu ekonomi masyarakat Bandung Barat.
“Dan saya pun juga ke depannya akan berkunjung ke beberapa Kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung Barat, juga desa agar bisa memberikan solusi pada permasalahan yang dihadapi UMKM sehingga bisa berkembang,” jelas Ilyasļ
.
Ilyas mengatakan bahwa meski tantangan saat ini cukup berat, namun pihaknya berupaya untuk mendorong dan memeberikan support secaa teknis maupun motivasi, terlebih pemerintah daerah belum melibatkan pengusaha lokal dalam bermitra serta belum memberi ruang kepada pengusaha lokal untuk berkiprah ikut membangun KBB. Diharapkan Pemda KBB jangan menganak tirikan dan menutup mata bagi pengusaha lokal untuk ikut dilibatkan dalam pembangunan di KBB.
“Pengusaha lokal, kalau saya lihat nih, sejauh ini belum dilibatkan, dalam partisipasi pembangunan dan pemberdayaan UMKM keseluruhan,” kata Ilyas
Meski baru berdiri paguyuban pengusaha lokal KBB, Ilyas mengaku dorongan pengusaha lokal terhadap. paguyuban sangatlah positif.
“Tapi dukungan dari sejumlah pengusaha sangat baik seperti itu, contoh beberapa perusahaan seperti PT Royal, PT Amedis, PT Bang Jabar, Bank PTN, atau mungkin yang lainnya juga, ikut mendukung semua, keberadaan paguyuban pengusaha lokal, jelas Ilyas.
Ilyas mengungkapkan pengusaha yang dilibatkan di KBB rata-rata masih dari luar, sehingga seolah-olah pengusaha lokal masih seperti tamu di wilayahnya sendiri dan “dianaktirikan.”
“Supaya pengusaha-pengusaha kontraktor ini bisa berjalan dengan baik. Karena kalau saya lihat sih pengusaha-pengusaha seperti pengusaha-pengusaha kontraktor lokal di Bandung Barat ini, belum diberi ruang dan kepercayaan dari pemerintah daerah Bandung Barat,” kata Ilyas.
“Kita harusnya, bersatu di paguyuban pengusaha lokal KBB, supaya bisa lebih maju dan bisa berkembang,” pungkas Ilyas. (*)






