BANDUNGSATU.COM – Menteri Koordinator (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno pada kunjungannya di lokasi Bencana Longsor di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat menyatakan, Pemerintah menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya korban longsor di Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua ini akibat longsor.
“Curah hujan yang sangat tinggi dan kami saat ini mengutamakan yang pertama adalah penyelamatan jiwa. Oleh karena itu kita melakukan operasi SAR 24 jam nonstop karena ada sekitar 83 warga yang masih dalam pencarian,” kata Pratikno pada konferensi pers usai mendampingi Wapres Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi lokasi bencana, Minggu (25/01).
Pratikno mengaku bahwa operasi penyelamatan sudah biasa dilakukan dengan semaksimal mungkin, mulai dari identifikasi sampai penyerahan korban jenazah kepada keluarga secara bermatabat.
“Perlindungan pengungsi, pelayanan pengungsi dan yang penting lagi adalah pencegahan bencana susulan. Oleh karena itu tim terdiri dari beberapa kluster utama. Intinya adalah 5 kluster. Kluster yang pertama adalah kluster SAR dipimpin oleh Basarnas, TNI, Polri, BPBD, BNPB juga,” ungkapnya.
Ia mengatakan dalam operasi pencarian dan penyelamatan ini lebih dari 250 personil diturunkan dengan berbagai macam alat berat yang dikerahkan.
Kluster penyelamatan dan pencarian yang kedua adalah kluster kesehatan dengan layanan 24 jam dengan fasilitas beberapa ambulan. Selain itu Pratikno juga mengatakan fasilitas Trauma healing saat ini sudah mulai berjalan.
Pratikno mengatakan pula, kluster ketiga penanganan bencana adalah kluster logistik.
“Jadi kami tadi juga bertanya kepada pengungsi bagaimana pelayanannya. Apakah sudah makan pagi atau belum dan lain-lain. Ini kluster logistik, sembako sudah disiapkan dan beberapa alat mendukung yang lain. Makanan siap saji dan juga fasilitas seperti selimut dan lain-lain. Yang ke tiga adalah kluster pelindungan sosial. Ini terima kasih kepada Kemensos dan juga Dinas Sosial Pemprov Jawa Barat, Pemkab Bandung Barat yang juga stand by untuk membantu para korban, keluarga korban terdampak, keluarga terdampak disini. Yang ke empat, kluster infrastruktur kita siapkan juga. Karena kita mencegah untuk terjadinya bencana susulan. Ada beberapa juga fasilitas pendukung kepada keluarga terdampak. Jadi Bapak-Ibu, teman-teman semuanya, kami terus berkoordinasi,” jelas Praktikno
Ia menegaskan tim Pemerintah Pusat, TNI, Polri, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, para relawan bekerja keras untuk melindungi warga, menyelamatkan warga dan memberikan fasilitas.
Di saat yang sama, kata Pratikno, Wapres RI Gibran Rakabuming Raka juga sudah membahas dengan Pemrov Jabar dan Pemkab Bandung Barat serta pihaknya mengenai rencana relokasi untuk menghindari dampak susulan.
“Ini identifikasi lahan dan lain-lain tadi sudah diminta untuk segera dilakukan saya kira itu,” pungkas Praktino.
Sementara itu Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) M.Syafeii mengatakan dalam operasi penanggulangan bencana longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, KBB dalam pelaksanaan operasi SAR, selaku koordinator adalah Badan SAR Nasional yang dibantu oleh seluruh Kementerian dan lembaga, khususnya TNI dan Polri yang ada di wilayah Jawa Barat.
Syafei juga mengatakan bahwa pihaknya sudah membuat rancangan penanganan sesuai dengan kapasitas institusi dan relawan yang terlibat. Alat-alat yang diperlukan pun sudah maksimal disediakan dalam operasi SAR tersebut.
“Kami sudah melaksanakan assessment awal dari lokasi kejadian, mulai dari titik yang menjadi mahkota longsor sampai di lidah dari longsoran. Kita bagi menjadi sektor-sektor. Saat ini yang sudah tergabung dalam operasi SAR, tadi sudah disampaikan oleh Bapak Menko lebih dari 250 personil terlatih. Kemudian untuk yang tergabung dalam operasi, termasuk dalam pendukung lebih dari 450 orang yang sudah terdata. Kemudian untuk penggunaan, sarana-prasarana bahwa operasi SAR ini akan menggunakan dua unsur, yaitu unsur udara yang melibatkan sarana drone. Drone yang sudah terdata ada 12 yang akan kita operasikan. Begitu juga unsur darat mulai dari personil sampai ke alat berat sudah juga tersebar,” jelas Syafei.
Meski demikian Syafeii mengakau bahwa sejumlah alat berat memang belum bisa diterjunkan di lokasi, karena memang kondisi struktur longsoran masih dalam bentuk seperti bubur pasir. Sehingga operasi SAR dilakukan secara bertahap dan dikoordinir oleh Kepala Kantor SAR Bandung.
”Unsur-unsur yang terlibat di lapangan tentunya dari koordinator sampai unsur pengamanan ini akan bekerja seoptimal mungkin untuk sesegera mungkin bisa mengevakuasi atau bisa menemukan seluruh korban yang informasi yang kita dapat lebih dari 80 personil,” ungkap Syafeii.
”Ini yang masih dalam proses pencarian. Dan mudah-mudahan bahkan kita juga sudah hari ini mengerahkan K9 dari teman-teman dari TNI, khususnya yang K9 dari Polri akan kita kerahkan untuk bisa membantu dalam proses penemuan korban. Begitu juga mudah-mudahan cuaca bisa membantu sudah dilaksanakan operasi modifikasi cuaca dan langsung dalam koordinator pemerintah dalam hal ini adalah BNPB,” imbuhnya.
Di tempat yang sama Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Letjen TNI. Suharyanto mengatakan operasi SAR dilaksanakan di bawah arahan Menko PMK dan BNPB sebagaimana diamanatkan Undang- Undang.
“Ini langsung memegang fungsi komando penanganan tanggap darurat di Kabupaten Bandung Barat ini. Tadi disampaikan untuk pencarian pertolongan sudah dijelaskan oleh Bapak Kepala Basarnas. Ini tentu saja berbeda dengan kemarin saat terjadinya kecelakaan pesawat. Itu hanya Basarnas tetapi karena ini berdampak pada masyarakat yang lain dan sifatnya bencana alam maka pencarian pertolongan menjadi salah satu bagian dalam penanganan secara keseluruhan. Nah kemudian setelah tanggap darurat kami informasikan kepada masyarakat lainnya yang terdampak yang bukan menjadi korban langsung yang hilang, keluarganya, sanak saudaranya, mungkin juga kehilangan rumah, tempat tinggal ini semuanya diurus oleh pemerintah pusat lewat BNPB,” jelas Suharyanto.
BNPB pun memastikan bahwa para korban yang rumahnya hancur imbas tertimbun longsor, sudah dipikirkan skemanya. Salah satunya adalah relokasi secara terpusat, mengingat lahan yang ada sekarang akan dianalisa kemungkinan apakah masih bisa digunakan atau tidak, untuk bermukim.
“Kemudian pasca bencananya juga demikian, jadi untuk masyarakat yang tinggal di tempat-tempat pengungsian yang sementara, itu ada dua pilihan, apakah mereka nanti dibuatkan hunian sementara atau mereka tinggal di sanak saudaranya. Ini sama seperti yang kita lakukan di tempat-tempat bencana lain. Yang mungkin sekarang sedang kita laksanakan adalah di Sumatera. Kemudian juga ada skema relokasi. Baik relokasi terpusat, nanti Pemerintah Kabupaten dan Provinsi akan mencari lahan. Tadi wanti-wanti Bapak Wapres juga cari lahan yang betul-betul aman. Di tengah-tengah kita juga ada badan geologi, ada pusat, Kepala Pusat Mitigasi Bencana Geologi ada juga di sini. Tentu beliau juga akan melihat mana-mana titik yang masih aman,” jelas Suharyanto.
“Kemudian yang masyarakat yang tidak terdampak langsung tetapi di lokasi yang rawan, itu pun akan ditindaklanjuti apakah masih boleh tinggal di situ ( meskipun sekarang tidak terkena longsor, tetapi tinggal menunggu waktu itu pun harus direlokasi dan relokasi bisa terpusat bisa juga secara mandiri,” imbuhnya.
Di sisi lain, pada keterangan persnya di lokasi longsor, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, memastikan bahwa seluruh yang berada di pengungsian sementara ini tetap mendapatkan rasa aman khususnya untuk perempuan, anak-anak, lansia dan juga disabilitas.
“Khususnya juga untuk perempuan yang menyusui dan perempuan yang sedang mengandung atau hamil. Kemudian kalau tadi kita diskusi berbicara dengan ibu-ibu yang ada disitu terlihat sekali bahwa mereka mengalami trauma yang sangat berpengaruh gitu ya, kalau dilihat dari cara berbicaranya, maka kami tentunya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak bagaimana layanan dukungan psikolog trauma healing ini bisa kita lakukan bersama-sama untuk memberikan penguatan kembali,” kata Arifah. (*)






