Oleh: ASEP WAHYU FS
Di tengah arus politik lokal yang semakin dinamis, tantangan besar kini menghadang Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchi Ismail. Bukan sekadar persoalan pembangunan atau layanan publik, melainkan ujian paling krusial dalam sejarah muda Kabupaten Bandung Barat (KBB): mampukah ia mempertahankan keutuhan wilayah kabupaten yang ia pimpin?
Seiring dengan munculnya kembali wacana perluasan wilayah Kota Cimahi, yang diam-diam menjajaki kemungkinan mengambil sebagian wilayah KBB, posisi Bupati Jeje berada dalam sorotan. Belum reda desakan dari sejumlah kecamatan di wilayah utara yang ingin membentuk Kota Lembang dan wilayah selatan KBB yang ingin memisahkan diri dengan membentuk Kabupaten Batulayang, kini muncul pula tekanan dari luar: Kota Cimahi melakukan pendekatan administratif dan simbolik yang dinilai sebagai manuver politik untuk memperluas batas kotanya.
Salah satunya adalah kunjungan kerja Wali Kota Cimahi ke Pemerintah KBB Kamis 3 Juli 2025 yang memicu tanda tanya publik. Apakah kunjungan itu murni silaturahmi antar kepala daerah, atau bagian dari skenario yang lebih besar? Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan Bupati Jeje ditantang untuk tidak hanya menjadi administrator, tetapi juga menjadi penjaga batas teritorial, identitas, dan integritas daerah.
KBB adalah kabupaten hasil pemekaran yang relatif muda. Sejak terbentuk tahun 2007, wilayah ini terus membangun struktur pemerintahannya, infrastruktur dasar, dan jati dirinya sebagai daerah otonom. Namun hingga kini, tantangan klasik belum sepenuhnya terselesaikan—mulai dari ketimpangan pembangunan antarwilayah, akses pelayanan publik, hingga minimnya infrastruktur di kawasan pelosok.
Celakanya, kelemahan-kelemahan ini justru menjadi alasan yang dipakai oleh beberapa pihak untuk mengusulkan pemekaran wilayah atau penggabungan ke daerah lain. Di titik inilah kepemimpinan Jeje sebagai kepala daerah diuji: apakah ia mampu menjawab keresahan masyarakat dengan solusi konkret, atau justru kehilangan kendali terhadap dinamika yang berkembang di akar rumput?
Kepemimpinan bukan hanya soal menjalankan program, tetapi juga membaca gejala, membangun narasi, dan mengambil sikap politik yang tegas di saat yang tepat. Dalam kasus ini, Bupati Jeje dituntut untuk menyatakan posisi resminya: menolak atau menerima wacana penggabungan sebagian wilayah KBB ke Cimahi. Ketegasan sikap akan memperkuat legitimasi kepemimpinannya dan memberikan arah bagi seluruh elemen birokrasi serta masyarakat KBB.
Jika Bupati memilih bersikap lunak atau membiarkan isu ini berkembang tanpa klarifikasi, maka ia membuka ruang ketidakpastian yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Dalam dunia politik, diam bukan berarti netral, melainkan bisa dimaknai sebagai persetujuan terselubung.
Yang juga tak kalah penting adalah membangun komunikasi politik yang kuat dengan DPRD, pejuang pemekaran KBB, ulama, tokoh masyarakat, dan pemuda di wilayah-wilayah perbatasan. Jangan sampai warga di wilayah seperti Kecamatan Parongpong dan Kecamatan Ngamprah merasa diabaikan, lalu tergoda pada wacana penggabungan wilayah hanya karena merasa “dekat secara geografis dan budaya” dengan Cimahi. Identitas lokal tidak cukup dibentuk oleh sejarah administratif, tetapi juga harus diperkuat dengan pelayanan yang adil dan keterlibatan aktif masyarakat.
Keutuhan wilayah KBB bukan hanya soal peta, tetapi juga soal rasa memiliki. Ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari kabupaten yang memperhatikan mereka, loyalitas akan tumbuh. Sebaliknya, jika mereka merasa ditinggalkan, maka narasi pemisahan atau penggabungan akan tumbuh subur.
Kini, pilihan ada di tangan Bupati Jeje. Ia bisa memilih jalan aman dengan membiarkan isu ini berlalu tanpa sikap jelas, atau ia bisa memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan kualitas kepemimpinan yang visioner, responsif, dan berpihak pada integritas daerah.
Dalam sejarah kepemimpinan lokal, akan selalu ada titik balik yang menentukan. Bagi Jeje Ritchi Ismail, titik balik itu adalah sekarang.
(Penulis : Pemerhati Masalah Sosial Politik dan Pemerintahan Lokal, Tinggal di Bumi Ganas Sari Bandung)






