Kemunculan Figur Kang Yayat Bagus untuk Tes Popularitas, PDIP KBB Jangan Kebakaran Jenggot

Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi dan Pembangunan, KBB, Holid Nurjamil. Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Kemunculan Wakil Bupati Bandung Barat Kedua, periode 2013-2018, Yayat T Soemitra yang tiba-tiba aktif melakukan berbagai aktivitas di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Bandung Barat (KBB), menarik perhatian sejumlah kalangan.

Apalagi banyak yang mendukung jika politisi senior PDIP ini kembali terjun ke panggung politik di KBB seperti yang dilakukan sebelumnya. Bahkan dukungan itu muncul dari para Ketua PAC PDIP dan sejumlah tokoh partai lainnya.

Kehadiran Yayat yang kini memiliki jabatan struktur partai di DPP PDIP, diharapkan membawa perubahan. Serta mengembalikan kejayaan PDIP di KBB yang sempat dirasakan selama 10 tahun di masa kepemimpinan Abubakar.

Yayat sendiri awalnya digadang-gadang akan maju pada Pilkada KBB tahun 2018. Namun saat itu rekomendasi PDIP dijatuhkan kepada Elin Suharliah yang berpasangan dengan Maman Sunjaya untuk berkontestasi dalam pilkada.

Terkait kemunculan Yayat T Soemitra yang juga pernah menjabat sebagai Plt Bupati Bandung Barat, Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi dan Pembangunan (Puskapolekbang), KBB, Holid Nurjamil menilai hal itu sebagai sesuatu hal yang wajar. Itu bisa saja sebagai tes popularitas bagi yang bersangkutan.

“Untuk tes popularitas bisa saja nama tokoh dimunculkan, termasuk Yayat T Soemitra yang notabenenya kader PDIP. Sah-sah saja dan wajar, jadi semestinya internal PDIP KBB gak perlu merasa kebakaran jenggot,” terangnya, Selasa (27/4/2021).

Kendati begitu, kata Holid, munculnya dukungan maju pilkada saat ini bisa dibilang terlalu dini. Sebab Pilkada KBB itu akan bersamaan dengan pilkada serentak yang rencananya di bulan November 2024. Itu artinya masih 3 tahun 7 bulan lagi, jadi masih terlalu jauh.

Sebaiknya saat ini tokoh-tokoh politik menahan diri dulu untuk mengetes popularitasnya. Apalagi terkait kondisi KBB yang masih belum stabil secara politik dan birokrasi juga bisa dikatakan hampir setengah melempem imbas dari penggeledahan dan pemeriksaan oleh KPK.

“Soal test popularitas dan elektabilitas itu bisa dilihat dari apa yang dilakukan oleh pemerintahan saat ini. Kita bisa mengukurnya dari tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan saat ini. Kalo seandainya masyarakat sebagian besar tidak puas, akan memudahkan bagi tokoh-tokoh politik yang sudah populer menaikan elektabilitasnya,” kata deklarator Formasi Juara KBB ini. (*)

Editor : Rizki Nurhakim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *