Kemenparekraf Gelar Learn Photopreneurship in Niis Style Bangkit dari COVID-19

Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi, Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Kemenparekraf RI, dan perwakilan fotografi dalam kegiatan Learn Photopreneurship in Niis Style, Selasa (1/12/2020). Foto/BANDUNGSATU.COM
Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi, Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Kemenparekraf RI, dan perwakilan fotografi dalam kegiatan Learn Photopreneurship in Niis Style, Selasa (1/12/2020). Foto/BANDUNGSATU.COM

BANDUNGSATU.COM –  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI menggelar kegiatan Learn Photopreneurship in Niis Style (Lens), di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 1-3 Desember 2020 ini diikuti oleh 40 peserta dari komunitas fotografi yang hadir langsung, dan 100 lainnya mengikuti secara virtual dari seluruh wilayah Indonesia.

“Kami ingin mengajak komunitas pelaku fotografi di seluruh Indonesia untuk bangkit dari pandemi COVID-19. Salah satunya adalah dengan mengasah inovasi, kreativitas, dan menumbuhkan jiwa entrepreneur,” kata Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi, Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Kemenparekraf RI, Syaifullah usai membuka kegiatan, Selasa (1/12/2020).

Menurutnya, selama pandemi COVID-19 teman-teman fotografer juga banyak yang terimbas. Ajang sharing season ini menjadi sumber inspirasi agar mereka bisa menemukan cara untuk bangkit dari pandemi dengan menjadi wirausaha. Sehingga mereka akan tahan terhadap resesi atau krisis yang terjadi di masa depan.

Dirinya menilai, Lens menjadi ajang sharing experience dan membangun networking. Itu bagian dari upaya dalam menemukan pasar dan peluang baru. Untuk itu dihadirkan 12 fotografer profesional yang saling berbagi pengalaman, ide, gagasan, dan inspirasi yang bisa diimplementasikan.

Pemerintah selalu membuka ruang berbagai komunitas untuk maju. Hobi fotografi bisa didorong menjadi profesional, ada sertifikasinya, hasil karya masuk ke flatform digital, sehingga punya nilai jual tinggi. Disinilah perlunya kolaborasi jiwa profesional dan kewirausahaan.

Disinggung soal adanya stimulan bagi komunitas fotografi, dia menyebutkan sedang mengumpulkan data base dan sebarannya. Sehingga ketika sudah tercatat dalam platform digital akan memudahkan ketika memgemas demand hasil foto. Pada saat ada program padat karya, mereka juga bisa diberdayakan.

“Saya rasa dengan kolaborasi seperti itu komunitas fotogragi bisa survive meski di tengah pandemi,” pungkasnya. (RZK)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *