BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Dua koban keracunan Kampung Citeureup Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), haru mendapatkan perawatan instensif di rumah sakit karena sedang hamil, sementara satu lainnya harus dirawat karena usianya yang sudah lanjut dan memiliki penyakit sesak nafas.
Hal itu dikatakan Kepala Puskemas Saguling, Burhan, Senin (22/07). Pasien dengan penyakit sesak nafas tersebut sudah berusia 80 tahun.
“Betul, kita rujuk tiga pasien korban keracunan ke RSCK dan RS Kartini. Ketiga pasien ini perlu penanganan pasien faskes tingkat dua karena ibu hamil dan lansia usia 80 tahun dengan penyakit penyerta asma,” kata Burhan.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga Kampung Citeureup RW 09 Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, mengalami keracunan usai menyantap makanan kupat tahu yang dibeli di Pasar Maroko Kecamatan Cihampelas, pada Jumat 19 Juli 2024.
Warga menderita keluhan medis berupa mual, muntah, diare, dan pusing. Kondisi ini dialami, pada Sabtu 20 Juli 2024 pagi.
“Warga Saguling ini memang rutin pergi ke pasar Maroko Cihamplas tiap hari Jumat. Mereka belanja kebutuhan pokok ke situ. Nah, usai belanja biasanya, warga beli ketupat langganan dan sebagian dibawa pulang. Cuma mungkin jarak antara waktu beli dan konsumsi panjang, sehingga santan kupat tahu jadi basi,” imbuh Burhan.
Menurut catatan Puskesmas Saguling, ada 22 orang warga menderita keracunan. 12 pasien diantaranya sudah dipulangkan, 2 orang rawat jalan, 5 orang dirawat di Puskesmas, dan 3 pasien dirujuk ke rumah sakit.
“Kondisi pasien yang masih dirawat juga mulai mengalami perbaikan. Saat ini mereka masih menjalani masa pemulihan,” tutur Burhan.
Burhan juga mengatakan, untuk menyelidiki penyebab keracunan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Puskesmas Cihampelas, karena lokasi tempat berjualan makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan berada di wilayah Puskesmas Cihampelas. S
Ia mengatakan, saat ini, petugas sudah mengambil sampel makanan untuk dicek di laboratorium dengan metode kandungan mikrobiologi serta toksikologi.
“Kemarin kita langsung koordinasi dengan Puskesmas Cihampelas karena lokasi penjual kupat tahu ada di sana. Intinya sampel yang dikirim berupa satu porsi kupat tahu dan air yang dipakai untuk mengolah makanan. Sampelnya sudah dikirim ke Labkesda Jabar dan hasilnya keluar antara 7-10 hari,” jelasnya.
Setelah kejadian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) bergerak melakukan pelacakan potensi warga keracunan yang diduga imbas menyantap makanan kupat tahu, di pasar Kampung Maroko, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas.
Selain warga Saguling, petugas mencatat ada 7 orang warga Kampung Rancaeceng, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas yang juga mengalami keracunan. (*)






