Inovasi Mesin Pengolah Sampah Buatan Pangdam III/Siliwangi Bisa Mengurangi Masalah Sampah Di Kota Bandung

Dandim 0618 Kota Bandung Kol. Inf. Donny I. Baenuri S,.Hub Int, M.A.S.S dan Ketua DPRD Kota Bandung, Tedy Rusmawan meninjau mesin alat pengolaha sampah di Desa Gudang Kahuripan Lembang KBB. Foto/Bandungsatu

BANSUNGSATU.COM-Persoalan pengangkutan sampah di TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang hingga saat ini belum terselesaikan masalahnya terus mendapat sorotan dari berbagai pihak.

Salah satu yang kini tengah diinovasi oleh Panglima Kodam (Pangdam) III Siliwangi Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo. Berinovasi menciptakan mesin pengolahan sampah di Kampung Cihideung RT 01/01, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Mesin pengolah sampah ini, diklaim ramah lingkungan, mesin pengolahan sampah yang yang diciptakan Pangdam III/Siliwangi, mesin tersebut dibuat oleh PT Nawasena bekerja sama dengan Koperasi Kartika Siliwangi.

Ada sejumlah fakta menarik terkait proses pembuatan mesin pengolah sampah tersebut. Pasalnya, riset untuk membuat mesin yang diklaim ramah lingkungan dan efisien ini membutuhkan waktu hampir 12 tahun.

Bahkan, untuk membuat rangkaian mesin tersebut juga melibatkan UMKM perbengkelan, salah satunya dari Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, KBB.

Alhasil, kehadiran mesin pengolahan sampah tersebut menarik perhatian Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan.

Bersama Dandim 0618/BS (Kota Bandung) Kolonel Infantri Donny I. Bainuri S.Hub Int., M.A.S.S melihat langsung lokasi pembuatan mesin pengolahan sampah di Lembang. Keduanya secara langsung menyaksikan cara kerja dari mesin pengolah sampah tersebut.

“Mesin pengolah sampah ini menjadi sebuah inovasi dari Kodam III/Siliwangi yang ramah lingkungan,” kata Tedy.

“Kita berencana bakal memesan dua unit untuk ditempatkan di TPS Babakan Sari dan TPS Suci,” ungkapnya.

Ia menyebut, di wilayah Kota Bandung saja terdapat 135 TPS. Sementara produksi sampah mencapai 1.500 ton per hari.

“Dari total produksi sampah itu, sebanyak 1.300 ton yang dibuang ke TPA Sarimukti sisanya diolah,” ujarnya.

Dengan adanya mesin pengolahan sampah ini, pihaknya pun berharap bisa semakin mengurangi sampah yang dibuang. Sebab, kapasitas mesin dari mesin pengolah sampah ini bisa mencapai 2 ton di mana sebanyak 60 persennya menghasilkan briket.

“Kami berharap setiap TPS sudah dilengkapi mesin pengolah sampah ini,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Dandim 0618/BS (Kota Bandung) Kolonel Infantri Donny I. Bainuri menilai, inovasi mesin pengolahan sampah tersebut bisa menjadi solusi dalam mengatasi persoalan sampah yang terjadi selama ini.

“Produksi sampah mengalami kenaikan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk,” katanya.

“Oleh sebab itu, perlu inovasi mesin pengolahan sampah yang efisien dan ramah lingkungan. Sehingga menjadi jawaban dari persoalan yang terjadi selama ini,” sambungnya.

Tim Teknis PT Nawasena, Yaya Suhaya menerangkan, briket dari residu sampah organik dan non organik cocok memiliki suhu panas hingga 936 derajat celsius.

“Kami sudah uji coba di 14 industri di Majalaya, Kabupaten Bandung. Selain lebih panas juga hemat dibandingkan batu bara,” terangnya.

Ia menyebut, harga mesin pengolahan sampah produk lokal ini jauh lebih murah dibandingkan buatan pabrikan luar negeri yang berkisar antara Rp 5 miliar hingga Rp 6 miliar per unit.

“Untuk harga mesin pengolahan sampah ini hanya sekitar 20 persennya dari produk luar. Sangat murah dengan kemampuan yang sama,” pungkasnya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *