BANDUNGSATU.COM – Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, (KDM) didampingi Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail meninjau korban bencana banjir di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada Rabu (19/03).
Saat meninjau lokasi tersebut, Dedi melihat puing-puing rumah yang rusak disapu air luapan sungai Cimeta serta berdialog langsung dengan warga.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, bencana banjir terjadi imbas luapan sungai Cimeta mengakibatkan 25 rumah rusak dan 139 jiwa warga di Desa Nyalindung mengungsi.
Selain di Nyalindung, BPBD mencatat 12 titik kejadian bencana longsor dan banjir yang tersebar di 6 kecamatan KBB, pada Sabtu (15/03) Akibat bencana itu total rumah rusak mencapai 479 unit.
Dedi Mulyadi mengatakan, rumah di bantaran sungai Cimeta harus direlokasi untuk mencegah bencana banjir di kemudian hari. Ia menuturkan, rumah tersebut rawan roboh karena pondasinya terkikis arus sungai serta getaran dari mobil-mobil besar yang lewat di Jalan Raya Padalarang-Purwakarta.
“Kalau tetap rumah di situ berat, karena di bawah digerus oleh air sungai terus dari atas mengalami tekanan kendaraan besar. Bahan bangunannya juga bata mudah rusak,” kata Kang Dedi Mulyadi pada korban banjir di Desa Nyalindung.
Dedi mengatakan jumlah rumah warga yang direlokasi akan didata oleh pemerintah daerah. Selain rumah yang rusak akibat tergerus banjir, Pemda juga mendata tingkat kerawanan bangunan di Bantaran Sungai Cimeta.
Dedi mengatakan, Pemprov Jabar akan memberi dana untuk pembangunan fisik rumah, sedangkan lahan disiapkan oleh pemerintah desa menggunakan tanah kas desa (TKD).
“Ini warga sudah mau direlokasi. Jadi kita akan relokasi dan bangunkan rumah baru setelah Hari Raya Idul Fitri,” tegas Dedi.
Sementara itu, salah seorang korban terdampak banjir, Dian Kusdiani, 38 tahun, merasa senang Pemprov Jabar akan merelokasi rumah warga. Apalagi ketinggian banjir tiap tahun terus meningkat sehingga khawatir mengancam keselamatan.
“Iya disuruh pindah rumah karena di sini sudah tidak memungkinkan. Takutnya kalau datang banjir malam-malam mengancam keselamatan, apalagi saya punya anak kecil. Saya siap dipindahkan supaya terjamin keselamatan karena banjir sekarang sudah setinggi atap,” ungkap Dian. (*)






