FPNBB, Hasanul Fikri: Penggantian Nama Bandung Barat Harus Miliki Simbol Kolektif yang Kuat

Inisiasi Forum Perubahan Nama Bandung Barat (FPNBB), Hasanul Fikri. Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Secara administratif nama Bandung Barat merupakan warisan nama nomenklatur pemekaran dari Kabupaten Bandung Induk pada tahun 2007. Meskipun nama ini cukup menjelaskan posisi geografis, namun dari segi identitas lokal, kultural, dan deferensiasi wilayah nama Bandung Barat memiliki keterbatasan dalam mencerminkan karakter otentik daerah ini.

Lefebvre (1991) tentang spatial representation dan identitas, serta pendekatan Toponymy dalam antropologi linguistik, telah mengemukakan bahwa nama suatu daerah memiliki daya strukturisasi terhadap identitas kolektif masyarakat. Hingga dapat disimpulkan bahkan sebuah nama bukan sekedar lebel administratif, melainkan narasi sejarah dan cerminan jatidiri dari suatu wilayah.

Hal itu disampaikan inisiator Forum Perubahan Nama Bandung Barat (FPNBB), Hasanul Fikri, Senin (30/06).

”Jika kita mengacu pada teori Imagined Comunities oleh Benedict Anderson mengemukakan pembentukan identitas daerah memerlukan simbol kolektif yang kuat, perubahan nama Bandung Barat akan memiliki dampak positif karena setiap elemen masyarakat akan memiliki rasa kepemilikan yang kuat, sekaligus membedakan diri dari dominasi simbolik yang menjadi kota pusat,” ungkap Fikri.

Ia mengatakan, kajian yang dilakukan oleh Kavaratzis (2004) menyebutkan dalam perspektif ekonomi Kawasan dan Place Branding, nama yang khas berakar budaya, dan kuat akan lebih mudah diangkat sebagai identitas destinasi wisata, budaya, dan produk unggulan. Dengan kata lain menegaskan bahwa identitas tempat sangat berperan dalam mempengaruhi persepsi luar terhadap suatu wilayah.

”Dalam sambutan sidang paripurna dalam rangka HUT KBB ke 18. Kang Dedi Mulyadi (KDM) Gubernur Jawa Barat menyinggung tentang perubahan nama Bandung Barat dengan ungkapan “Bandung Barat teh hese nga-branding na,” bahkan KDM menawarkan jika Bandung Barat ingin merubah nama maka beliau siap membantu. Pernyataan beliau mengenai kendala branding yang ditimbulkan oleh nama “Bandung Barat,” yang cenderung mengaburkan identitas daerah dan menimbulkan asosiasi langsung dengan Kota Bandung, menunjukan perlunya pendekatan yang lebih akademis terhadap permasalahan penamaan wilayah,” jelasnya.

Fikri menegaskan, tentunya tujuan utama perubahan nama bukanlah sekadar pergantian label administratif, melainkan transformasi identitas yang berdampak positif terhadap berbagai aspek pembangunan. Secara ekonomi, nama baru yang tepat dapat meningkatkan daya tarik investasi dan pariwisata melalui strategi branding yang efektif.

”Dari perspektif politik, perubahan nama dapat memperkuat kesatuan dan jati diri daerah, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan memperjelas posisi daerah dalam konteks regional dan nasional. Secara sosio-kultural, perubahan nama harus mempertimbangkan nilai-nilai lokal dan menghindari potensi konflik atau persepsi negatif di masyarakat,” kata Fikri.
Menurut Fikri perubahan nama bukan hanya sekedar pergantian administrasi. Namun lebih dari pada itu akan memberikan podasi demi membangun narasi baru yang lebih membumi, membangkitkan potensi lokal, serta memberikan energi simbolik bagi generasi muda untuk mencintai tanah kelahiranya

”Namun proses ini akan menjadi sebuah perjuangan yang luar biasa. Perlu adanya berbagai kajian dan penelitian yang mendalam baik dari segi geografis, historis, antropologis, kajian sosiologis, dan kajian lainya yang berkaitan dengan perubahan nama Bandung Barat,” ungkap Fikri.

”Pembentukan Forum Perubahan Nama Kabupaten Bandung Barat merupakan langkah awal yang penting dalam proses ini. Forum tersebut diharapkan mampu memfasilitasi kajian akademis yang mendalam, menampung aspirasi masyarakat, dan merumuskan rekomendasi nama yang representatif dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dengan tagline “Menjadi Kuat dari Akar, Terbang Menuju Masa Depan” merefleksikan harapan akan transformasi yang menghormati sejarah dan budaya lokal serta mendorong kemajuan daerah ke arah yang lebih baik. Partisipasi aktif berbagai pakar dan elemen masyarakat sangat krusial untuk memastikan proses perubahan nama ini berjalan secara demokratis, transparan, dan berorientasi pada kepentingan daerah jangka panjang.

Ditemui di Cihampelas Fikri, sebagai tokoh muda yang berperan aktif mewakili Forum Perubahan Nama Bandung Barat (FPNBB), menjelaskan pentingnya penamaan wilayah dalam konteks pembangunan daerah, branding, dan pembentukan identitas. Ini juga menunjukkan suatu inisiatif pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih luas daripada sekadar administrasi, yang terpenting baginya adalah generasi muda harus memiliki rasa meiliki untuk tempat lahirnya, tempatnya bernaung, dan tempatnya tumbuh.

“Jika kedepanya perubahan ini dapat terealisasi. ini langkah yang luar biasa dari pemerintah daerah dan Masyarakat. Kami harap bukan sekadar pergantian nama administratif, melainkan simbol arah baru pembangunan. Kami ingin membangun tempat kami tercinta ini bukan hanya maju secara fisik, tetapi juga berakar kuat pada budaya dan karakter lokal, dan jangan dilupakan generasi muda harus memiliki rasa bangga dan rasa memiliki untuk tempat tercinta,” jelas Fikri. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *