BANDUNGSATU.COM – Tm putri Taboao da Serra, Brasil, kalah 29-0 dalam pertandingan liga bulan lalu. Kekalahan mengerikan itu bukan satu-satunya. Tim ini juga kalah dalam tiga pertandingan berikutnya dengan skor-skor 14-0, 10-0 dan 16-0 dan tersingkir dari kejuaraan negara bagian Sao Paulo pada babak penyisihan grup.
Hasil ini memicu perdebatan lain tentang daya saing sepak bola putri Brasil. Bahkan sudah diperkirakan bakal ada reaksi balik yang tentu saja ejekan seksis.
Ketika kami kalah “mereka bilang sepertinya seluruh tim terkena COVID-19, tak usah repot-repot bermain, hal-hal semacam itulah, Anda tahu sendiri,” kata kapten Lohane Ferreira seperti dilansir bandungsatu.com dari Antara, Kamis (19/11/2020).
Mereka “berbicara seolah-olah sepak bola hanya untuk laki-laki, bahwa perempuan mestinya tinggal di rumah saja mencuci piring, seperti budak pria. Sebagian besar pemain mendapatkan pesan semacam ini.”
Hasil dan pesan-pesan itu mencerminkan tantangan yang dihadapi sepak bola putri di Brasil.
Bangsa Amerika Selatan ini terkenal sebagai rumah spiritual sepak bola; tempat kelahiran Pele, Ronaldo Nazario, dan Neymar; dan satu-satunya negara yang lima kali menjuarai Piala Dunia.
Tim putri mereka juga kompetitif di pentas dunia namun ketika pemain-pemain top seperti Marta, satu-satunya wanita yang enam kali memenangkan penghargaan Pemain Terbaik Dunia, dapat hidup nyaman di luar negeri, mayoritas pemain putri yang bermain di Brasil mengalami kesulitan.
Bahkan klub-klub senior dituduh tidak memberikan peralatan atau fasilitas yang sama dengan tim putranya dan gaji yang sama adalah mimpi besar.
Taboao hanya mengamankan satu lapangan latihan tiga hari sebelum liga tahun ini dimulai dan para pemainnya memikul hampir semua tanggung jawab dalam mempersiapkan, berlatih, dan bermain.
“Kami tak mendapatkan bantuan lain, bahkan sepatu,” kata gelandang Alieni Baciega Roschel.
Taboao, seperti banyak klub di Brasil, menghadapi kesulitan keuangan dan memutuskan bahwa tahun depan akan memfokuskan semua sumber daya kepada tim putra. Namun para pemain telah bersumpah untuk terus bermain. Mereka optimistis menatap masa depannya. (RZK)






