BANDUNGSATU.COM – Meski belum ada informasi soal tersebarnya virus Human Metapneumovirus (HMPV) ke Indonesia, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat mengingatkan agar masyarakat waspada. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan KBB, dr Ridwan A Saputra, Senin (06/01).
”Kita waspada ya, terutama Bandung Barat sebagai daerah transit, terutama tenaga-tenaga kerja dari luar. Ya kemungkinan, ada, bisa terjadi,” jelas Ridwan.
Ridwan mengambil contoh pada pandemi Covid 19 lalu, masyarakat diminta agar berdisiplin menjaga kesehatan dengan rajin mencuci tangan, menjaga jarak dan mengenakan masker saat di keramaian.
Ridwan juga meminta agar saat ada keluhan kesehatan agar segera memeriksakan diri ke dokter.
”Kalau ada keluhan kesehatan seperti demam kemudian badan lemas atau batuk pilek, segera saja menghubungi fasilitas kesehatan yang terdekat,” imbuh Ridwan.
Ditanya soal screening bagi mereka yang sudah melakukan perjalanan dari luar negeri khususnya China tempat merebaknya penyakit HMPV, Ridwan mengatakan hal tersbut adalah kewenangan Pemerintah Pusat. Ia yakin, Pemerintah akan mengambil langkah jika kondisi yang rawan terjadi.
”Itu kewenangan Pemerintah Pusat, di bandara, di pelabuhan-pelabuhan biasanya ada pengetatatan jika kondisi di China sudah mengakhawatirkan dan kemungkinan bisa tersebar ke luar,” kata Ridwan.
”HMPV sendiri sebenarnya tingkat bahanya di bawah Covid 19. Tapi sama penyakit ini menyerang saluran pernapasan dan bisa menyebabkan penyakit pnemonia,” tukas Ridwan.
Meski tingkat kerawanan HMPV ini lebih ringan dari Covid 19, Ridwan sendiri mengatakan bahwa vaksin Covid 19 tidak akan efektif digunakan bagi virus HMPV karena struktur virusnya berbeda pula.
Human metapneumovirus (HMPV) adalah virus yang gejalanya mirip dengan flu biasa. Virus ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas, tetapi terkadang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bawah seperti pneumonia, kambuhnya asma atau memperburuk penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Di China, infeksi HMPV lebih umum terjadi pada musim dingin dan awal musim semi. Dari sejumlah penelitian disebutkan bahwa kebanyakan orang tertular HMPV sebelum mereka berusia 5 tahun. Namun setelah usia 5 tahun, manusia dapat tertular HMPV lagi dengan gejala yang biasanya ringan setelah infeksi pertama.
Selain balita, orang dewasa berusia di atas 65 tahun dan orang dengan masalah pernapasan atau sistem kekebalan yang lemah juga bisa mengalami gejala parah.
Data dari hasil sejumlah penelitian menunjukan bahwa 10% hingga 12% penyakit pernapasan pada anak-anak, disebabkan oleh HMPV. Sebagian besar kasusnya ringan, tetapi sekitar 5% hingga 16% anak-anak akan mengalami infeksi saluran pernapasan bawah seperti pneumonia.
Gejala HMPV sendiri nyaris sama dengan gejala Covid 19, seperti batuk pilek, demam atau panas dan gejala sesak nafas. Hanya saja pada HMPV tidak disebut adanya indera penciuman yang terganggu. (*)






