Dampak Kekeringan, Harga Beras Melonjak Mahal di KBB, Pemda Akan Melakukan Operasi Pasar

Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Barat, Ade Zakir dan juga menjabat Kepala BPBD , memberikan keterangan kepada wartawan tentang kekeringan yang melanda KBB, tahun ini. Foto/BANDUNGSATU.COM

BANDUNG BARAT, BANDUNGSATU.COM – Pemerintah Daerah Bandung Barat melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KBB mencatat lahan pertanian padi sekitar 179 hektar di KBB mengalami kekeringan yang tersebar di 13 Desa di Kecamatan Cihampelas, Cililin, Batujajar dan Sindangkerta.

Hal tersebut diakui Bupati Bandung Barat, Hengki Kurniawan yang mengatakan kondisi tersebut sebagai efek dari El Nino yang puncaknya terjadi sepanjang bulan Agustus. Ia menanggapi kondisi kekeringan tersebut dengan mengambil sikap untuk mendorong dinas terkait agar segera melakukan intervensi untuk menangani bencana kekeringan ini.

“Intervensinya bisa dilakukan dengan cara apapun, seperti kirim air menggunakan tanki atau pun tindakan lainnya yang bisa membantu masyarakat,” Kata Hengki.

Kondisi ini mencetuskan keinginan Hengki untuk bisa membangun embung yang besar agar bisa menampung air saat hujan, dan bisa dimanfaatkan saat kekeringan.

Sementara Itu Sekretaris Daerah KBB, Ade Zakir Hasim yang juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat mengatakan pihaknya sudah menerbitkan SK soal penanganan kekeringan, termasuk meminta dinas terkait, menginventarisir daerah yang dilanda kekeringan untuk diberikan bantuan air.

“Ya, kalau kemarau Pak, kita sudah menerbitkan juga SK tentang kesiapsiagaan kekeringan. Dan untuk Dinas-Dinas terkait, seperti BPBD juga rutin mendroping ke kantong-kantong kekurangan air bersih. Untuk Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, juga sudah menyiapkan langkah-langkah. Mereka juga sudah antisipasi, menyiapkan surat edarannya dan lain sebagainya sehingga di lapangan bisa terkendali,” kata Ade, Selasa (12/09)

Ade Juga menambahkan bahwa saat ini dengan dinas terkait juga sedang mengantisipasi mahalnya beras, imbas kekeringan. Meski pihaknya masih fokus pada dampak kekeringan, namun BPBD akan mengumpulkan data untuk kemudian akan diambil keputusan apakah menggelar operasi pasar atau dengan bentuk penanganan lain.

“Mungkin ke depan sebentar lagi kita juga akan melakukan apa namanya evaluasi tentang itu, mungkin kita akan fokus ke masalah kekeringan. Apakah perlu operasi pasar atau apa. Untuk wilayah terdampak, nanti kita gabungkan semua menjadi satu kesatuan, apakah memang diperlukan mengakses BTT lagi atau tidak ? ” tambah Ade Zakir.

Meski pihaknya sudah mengantisipasi, namun ia mengakui kekurang maksimalan penanganan masih ada. Di antaranya adalah armada tanki yang masih kurang. Namun ia mengaku bahwa sejauh ini, soal dampak kekeringan masih bisa ditangani.

“Selama ini masih bisa ditangani kita memang mengakui ada kekurangan armada tanki dan sebagainya itu jadi catatan-catatan kami lah mudah-mudahan tahun depan kita bisa selesaikan,” pungkas Ade.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *