BANDUNGSATU.COM – Menyikapi dinamika carut marut tata pengelolaan birokrasi dan runtuhnya marwah moralitas oknum aparatur di Kabupaten Bandung Barat, Forum Masyarakat Peduli Bandung Barat yang tergabung dalam Komunitas BALAD KBB, menggelar aksi spiritual dan gerakan moral bertajuk “Istighasah Qubro & Doa Bersama.”
Acara berlangsung pada Jumat, (05/06) mulai pukul 08.00 WIB, bertempat di halaman Kantor Bupati Kabupaten Bandung Barat.
Koordinator Lapangan Komunitas BALAD KBB, Hasanul Fikri menegaskan, menjelang hari jadi KBB ke 19, gerakan ini lahir murni dari rasa cinta yang mendalam dari masyarakat terhadap tanah kelahiran Kabupaten Bandung Barat (KBB).
“Menjelang Hari Jadi KBB yang ke-19, masyarakat tidak ingin daerah yang didirikan atas tetesan keringat dan doa para sesepuh ini dikotori oleh runtuhnya integritas serta tindakan amoral oknum ASN yang terkesan dilindungi oleh sistem birokrasi,” kata Fikri.
“Aksi ini adalah bentuk ‘Rakyat Menggugat, Hukum Tuhan Mengikat’. Kami hadir bukan karena kebencian, melainkan karena rasa cinta. Kami ingin mengetuk pintu langit agar Bandung Barat diselamatkan dari krisis moralitas pejabatnya. Ketika hukum manusia mulai bermain mata dengan alasan prosedur, maka kami serahkan keadilan ini kepada hukum Tuhan,” imbuh Fikri, saat memberikan keterangan pada para pewarta, selesai acara.
Selain menjadi ruang zikir dan doa bersama, momentum ini juga diisi dengan khutbah moral terbuka serta penyerahan petisi rakyat secara langsung kepada Bupati KBB.
“Masyarakat menuntut ketegasan reformasi di tubuh Inspektorat (Irbansus) dan BKPSDM KBB, serta menolak keras segala bentuk intimidasi hukum dan kriminalisasi yang coba dilakukan oleh oknum pelaku asusila terhadap pihak pelapor,” ungkap Fikri.
Hadir pada kesempatan tersebut, masyarakat Kabupaten Bandung Barat dari berbagai latar belakang, nulai alim ulama, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, hingga seluruh warga negara yang peduli pada masa depan Kabupaten Bandung Barat merapatkan barisan dalam istigosah dan doa bersama.
Acara istigosah qubro dan doa bersama ini bersifat terbuka dan berjalan tertib, damai, dan aman sampai selesai.
“Mari kita buktikan bahwa rakyat KBB tidak pernah kehabisan keberanian untuk menegakkan keadilan dan menjaga kehormatan daerah kita tercinta,” pungkas Fikri. (*)






