Aktivitas Vulkanik Naik Turun di Kawah Gunung Tangkuban Perahu Lembang KBB

Gunung Tangkuban Perahu. Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Aktivitas vulkanik di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dikabarkan meningkat, Direktur Operasional Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu, Ruslan Kaban mengatakan, meski demikian situasi di lokasi masih dalam kondisi aman dan terkendali.

“Kondisinya masih normal, aktivitas hembusan masih dalam  batas aman,” kata Ruslan, Selasa (04/06).

Ruslan mengatakan, aktivitas vulkanik yang naik turun adalah hal wajar terjadi pada gunung api aktif seperti Tangkuban Parahu. Namun, pihaknya selalu menerapkan prosedur standar keselamatan bagi wisatawan selama berada di kawasan wisata.

Ruslan juga mengatakan bahwa pihaknya telah menyiagakan petugas di sejumlah titik untuk memberikan informasi kepada wisatawan. Termasuk prosedur pengamanan dan jalur-jalur evakuasi.

“Kami selalu imbau wisatawan agar parkir kendaraannya menghadap keluar dari arah kawah agar memudahkan bila diperlukan ada evakuasi,” ucap Ruslan.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak vulkanologi untuk mengetahui kondisi terbaru dari Kawah Ratu.

Sementara itu, Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan, berdasarkan pemantauan Gunung Tangkuban Parahu dari 30 Mei hingga 2 Juni 2025, tercatat ada 21 hingga 37 gempa hembusan/hari.

“Sedangkan gempa berfrekuensi rendah (low frekuensi) 134 kejadian,” kata Wafid.

Wafid menyebut, Badan Geologi mendeteksi perubahan pada struktur tubuh gunung melalui metode deformasi seperti Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Navigation Satellite System (GNSS).

“Hasilnya menunjukkan pola inflasi yang mengindikasikan adanya tekanan yang meningkat dari dalam gunung,” ungkapnya.

Pola gempa berfrekuensi rendah, ungkap Wafid, menunjukkan adanya pergerakan fluida di kedalaman dangkal. Hal tersebut berkorelasi langsung dengan peningkatan intensitas hembusan gas dari kawah.

“Terlebih saat ini curah hujan di sekitar wilayah Gunung Tangkuban Parahu masih tinggi,” ungkapnya.

Kondisi itu, kata Wafid, memicu erupsi freatik Gunung Tangkuban Parahu akibat perambatan/propagasi panas magma melewati batuan/material vulkanik penyusun tubuh gunung api dan kemudian memanasi sistem air tanah di dalam tubuh gunung api.

“Pada kondisi tersebut air dapat mengalami pemanasan yang ekstrim (super heating), menghasilkan uap dengan tekanan sangat tinggi, dan akhirnya terjadi erupsi freatik,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *