Abu Vulkanik Bahaya Untuk Penerbangan, BMKG Tekankan Pentinya Informasi Meteorologi

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) penanganan abu vulkanik perlu dilakukan secara seksama. Foto/Istimewa

JAKARTA, BANDUNGSATU.COM – Dampak letusan gunung berapi dapat menimbulkan bahaya signifikan bagi dunia penerbangan, oleh karenanya informasi meteorologi menjadi kunci dalam Penanganan abu vulkanik, sehingga tidak menggangu penerbangan.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam lokakarya bertajuk ‘Workshop on Volcanic Ash Impact Handling for Aviation’, di Hyatt Regency Hotel Yogyakarta, Senin (13/11).

Penanganan abu vulkanik perlu dilakukan secara seksama, Apalagi, data menunjukan tidak kurang dari 700 gunung api aktif dan berpotensi aktif telah terdeteksi di Kawasan Asia Tenggara.

“Informasi meteorologi merupakan elemen kunci dalam penanganan abu vulkanik untuk mencegah kecelakaan dan insiden yang disebabkan oleh awan dan partikel abu vulkanik,” kata Dwikorita

Dwi Korita menyebut salah satu tugas BMKG ialah memberikan informasi cuaca penerbangan. Tujuannya, informasi ini bisa diberikan kepada seluruh pihak menjelang erupsi gunung berapi sehingga dengan informasi tersbut bisa diantisipasi agar pesawat yang sudah mengudara tidak terganggu dengan partikel abu vulkanik.

“Partikel abu vulkanik sendiri ketika masuk ke dalam ruang mesin pesawat tentunya dapat mengakibatkan hal fatal. Sehingga, informasi cuaca penerbangan ini ialah deteksi dini (early warning) bagi seluruh pihak, utamanya dunia aviasi,” kata Dwi Korita.

Bahaya abu vulkanik ini, kata Dwi, menuntut adanya tindakan terukur yang diambil oleh seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan keselamatan dalam dunia penerbangan. Hal ini juga sebagai langkah memastikan keberlanjutan dunia aviasi jika terjadi semburan abu vulkanik yang suatu waktu bisa terjadi.

“Oleh karenanya, perlu adanya respon informasi antar penerbangan berbasis regional yang melibatkan banyak negara. Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman yang sama dari seluruh pihak mengenai prosedur informasi abu vulkanik menjadi hal fundamental yang perlu dipahami,” tegas Dwi Korita.

Kolaborasi terpadu antar negara dan wilayah akan mendorong peningkatan kesadaran situasional akan letusuan gunung berapi dan penyebabnya. Atas dasar itu, Dwikorita berujar lokarkaya ini memiliki tujuan utama yakni meningkatkan kemampuan penyedia informasi abu vulkanik untuk penerbangan.

“Dan mendorong proses Pengambilan Keputusan Kolaboratif (Collaborative Decision Making/CDM) yang efektif dalam menanggapi kejadian abu vulkanik,” ujarnya.

“Dengan kolaborasi dan kerjasama seluruh pihak memberikan peringatan dini. Ketika terjadi erupsi akan dilakukan analisis sebaran arah abu vulkanik untuk segera disiarkan peringatan dininya ke seluruh dunia,” ungkapnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *