BANDUNGSATU.COM – Soal putra daerah kembali menjadi topik hangat, setelah aktivis muda Pemerhati Kebijakan Publik Jabar, Arie Somantri mengkritisi lambanya pembangunan di Kabupaten Bandung Barat.
Arie menyebut bahwa mereka yang lahir di Bandung Barat akan lebih mengetahui mana yang harus dilakukan dalam memajukan KBB, ketimbang mereka yang tidak berasal dari Bandung Barat.
“Saya melihat Pemerintah KBB telah bekerja keras membangun daerah ini. Banyak hal yang sudah berjalan. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan dengan jujur dan terbuka. Mari kita libatkan putra-putri asli KBB, warga masyarakat KBB, untuk turut serta membangun daerahnya sendiri,” kata Arie.
Ia menilai dengan rasa memiliki, para putra daerah ini bisa lebih baik membangun karena merasa berada di ‘rumahnya’ sendiri.
“Saya percaya, tidak ada orang yang lebih menginginkan kemajuan KBB selain kita, orang yang lahir, tumbuh, dan berharap di sini. Karena di sanalah rumah kita keluarga kita masa depan kita Ada rasa memiliki yang melekat di hati, yang tidak bisa dibeli dengan apa pun,” tegasnya.
Arie pun melihat bahwa pada saat ini sejumlah kesempatan memimpin, bekerja dan berusaha justru lebih banyak ‘dikuasai’ oleh orang luar KBB dan putra daerah hanya menjadi penonton.
“Namun sayang saya melihat banyak peluang, banyak pembangunan banyak kesempatan di KBB yang justru dikerjakan, dikuasai, dan dinikmati oleh orang-orang dari luar daerah. Sementara putra-putri asli KBB, pengusaha lokal, tenaga kerja lokal, sering kali hanya menjadi penonton di tanah sendiri,” tukasnya.
“Berapa banyak pembangunan yang berjalan di KBB, tapi yang membangunnya bukan kita, bukan warga kita? Saya mewakili temen temen juga tidak menolak orang lain. Kita terbuka untuk bekerja sama. Tapi jangan sampai KBB dibangun oleh orang luar, sementara anak bangsanya sendiri hanya menjadi penonton. Biarkan rasa memiliki itu tumbuh dan bekerja, karena orang yang merasa memiliki, akan membangun dengan sepenuh hati, bukan sekadar mencari keuntungan lalu pergi,” imbuh Arie.
Melihat kondisi tersebut Arie mengimbau agar Pemda Bandung Barat memberikan peluang utama kepada putra-putri asli KBB, warga dan pengusaha lokal dan elemen elemen masyarakat untuk turut serta dalam pembangunan daerahnya sendiri.
Ia juga meminta pemda KBB melibatkan mereka, para putra daerah, dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan, karena mereka lah yang paling merasakan dampaknya.
“Berikan ruang agar rasa memiliki itu tumbuh menjadi karya nyata, bukan karena paksaan, tapi karena cinta kepada tanah kelahiran sendiri. Buat kebijakan kebijakan yang pro masyarakat yang tepat sasaran jangan buat kebijakan kebijakan yang megundang kontroversi dan bertolak belakang dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Arie.
“Saya yakin, kalau yang membangun adalah orang yang benar-benar memiliki KBB di hatinya, pembangunan ini akan lebih kuat, lebih tahan lama, dan lebih bermanfaat bagi rakyatnya sendiri. Karena pembangunan bukan sekadar pembangunan selesai, tapi tentang siapa yang membangun, dan untuk siapa pembangunan itu dilakukan. Mari kita bangun KBB bersama putra-putrinya sendiri, dengan rasa memiliki yang tulus, demi masa depan yang lebih baik untuk kita semua,” tegasnya.
Arie Somantri sebagai aktivis muda dan pemerhati kebijakan publik Jabar mengatakan, ada hal yang penting untuk digaris bawahi, yaitu eksekutif dan legislatif adalah penentu kebijakan yang akan memberikan dampak baik atau buruk dalam tata kelola pemerintahan Kabupaten Bandung Barat dan memberikan dampak produktifitas dan kondusifitas daerah yang akan berpengaruh terhadap stabilitas politik, sosial dan ekonomi masyarakat Kabupaten Bandung Barat.
Eksekutif dan legislatif menurut Arie harus selaras dan bekerja sama dengan baik demi mewujudkan visi misi Bandung Barat yaitu amanah, agamis, maju, adaktif, nyaman, aspiratif dan harmonis.
“Jadikanlah kejadian-kejadian yang telah terjadi di KBB sebagai bahan evaluasi bersama-sama antara eksekutif dan legislatif dan unsur lainya, mulai dari rasa hati dari pikiran yang baik dan jernih. Terimakasih,” pungkas Arie. (*)






