BANDUNGSATU.COM- Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat mengkritisi renovasi trotoar yang sedang dilaksanakan di sejumlah kota di Jabar. Pembangunan trotoar di perkotaan tersebut, menurut Walhi, tidak memenuhi akidah yang seharusnya.
Ketua Walhi Jawa Barat, Wahyudin menyatakan, pembangunan atau renovasi trotoar di perkotaan kerap kali tidak mengindahkan penghijauan. Menurutnya, pada perbaikan trotoar tersebut, banyak pohon yang selalu ini menjadi fungsi ganda sebagai peneduh dan penetralisir polusi, malah ditebang.
Pria yang akrab dipanggil Kang Iwang ini menyebutkan, pembangunan trotoar di daerah Kiaracondong, pasir Koja, jalan Pajajaran, Sukajadi, Cihampelas, Ujung Berung dan sejumlah titik lainnya di Kota Bandung, tidak mengindahkan unsur tangkapan air.
Hal ini terlihat pada pembangunan yang massif dilakukan di kota dan kabupaten Bandung. Penggunaan materialnya menggunakan bahan solid yang tidak tembus air saat hujan.
“Padahal kita memerlukan sempadan jalan sebagai area tangkapan air agar air tidak mengalir ke jalan,” ujarnya.
“Mestinya tidak menggunakan proses betonisasi untuk mempercantik trotoar karena itu nyata nyata mengurangi daya serap air di tempat tersebut,” imbuhnya.
Ia juga menyayangkan drainase pendukung jalan di perkotaan, tidak dirancang secara maksimal. Ia menuturkan, sejak zaman Belanda hingga masa awal pembangunan di perkotaan, tidak menggunakan bahan solid. Buruknya Tata kelola pembangunan trotoar dan sempadan, menyebabkan banjir tak terelakkan.
Dengan kondisi ini, kata Iwang, tak heran bila banjir terjadi di banyak tempat karena ketika curah hujan tinggi air akan meluber ke jalan akibat trotoar dan drainase yang tidak mendukung penyerapan air. Aliran air tersebut diyakini masuk ke sungai, hingga menyebabkan banjir lebih tinggi di daerah Bandung Selatan.
Berdasarkan pantauan Walhi, pembangunan trotoar di banyak titik, contohnya di jalan Pajajaran Bandung, para pekerja menggunakan lapisan plastik yang tebal untuk melapisi dasar pembangunan trotoar. Lapisan plastik tersebut diyakini tidak tembus air. Terlebih di atasnya dipergunakan bahan solid berupa beton.
Iwang menyatakan pihaknya sudah lama memberikan saran pada Pemerintah, bahkan memberikan kritik atas pembangunan yang tidak mengindahkan unsur lingkungan. Karena hal tersebut, menurut Walhi, menjadi tidak baik untuk solusi masa depan.
“Cantiknya trotoar di area perkotaan seperti Kota Bandung menjadi nestapa warga Bandung Selatan,” pungkas Iwang. (*)






