BPBD KBB dan Desa Gudang Kahuripan Menggelar Program Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana

Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Simulasi penanganan bencana alam yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) dilaksanakan Senin (11/11) di Lapangan Sinapeul, Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang

Kegiatan ini bagian dari program peningkatan kesiapsiagaan masyarakat yang digagas oleh Desa Tangguh Bencana (Destana) Kecamatan Lembang.

Tiga ratus peserta dari berbagai unsur masyarakat ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Peserta terdiri dari warga sekitar, relawan kebencanaan, pelajar, serta unsur gabungan seperti PMI, SAR, TNI-Polri, dan aparat kewilayahan.

Kepala BPBD KBB, Asep Sehabudin mengatakan simulasi siaga bencana tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem tanggap darurat di wilayah rawan bencana, terutama di kawasan Utara Bandung Barat.

“Simulasi siaga bencana ini kami awali di Lembang karena hampir seluruh wilayahnya memiliki potensi longsor dan banjir bandang akibat kondisi geografis dan curah hujan yang tinggi,” ujar Asep.

Asep mengatakan, latihan ini dirancang untuk mengukur sejauh mana kesiapan tim gabungan dalam menghadapi potensi bencana, khususnya evakuasi dan penanganan korban di lapangan.

“Kami ingin memastikan seluruh unsur benar-benar siap dan terlatih jika sewaktu-waktu bencana terjadi. Latihan seperti ini penting agar koordinasi dan respon bisa berjalan cepat dan efektif,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pelatihan pertolongan pertama, pengelolaan posko darurat, dapur umum serta tata cara koordinasi lintas lembaga saat terjadi bencana.

Materi lain yang disampaikan meliputi pengaturan logistik dan sistem komunikasi darurat. Skenario simulasi menggambarkan kejadian longsor akibat hujan deras yang menimpa permukiman warga.

Tim gabungan kemudian bergerak cepat mengevakuasi korban, memberikan pertolongan pertama, serta mengatur jalur logistik dan informasi kepada masyarakat.

Masyarakat tampak antusias mengikuti simulasi ini. Para pelajar diberi pemahaman langsung tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana sejak usia dini.

Asep menegaskan, kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Latihan diharapkan benar-benar memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat.

“Simulasi seperti ini akan kami lakukan secara berkala di kecamatan lain. Harapannya, setiap daerah memiliki masyarakat yang tangguh, tidak panik, dan tahu langkah apa yang harus dilakukan ketika bencana datang,” ujarnya.

Kepala Desa Gudangkahuripan, Agus Karyana menambahkan bahwa Destana menjadi garda terdepan dalam penyebaran informasi dan pelatihan mitigasi di tingkat desa.

“Melalui simulasi ini kami belajar langsung bagaimana bertindak saat bencana terjadi. Ini penting agar masyarakat tidak hanya menunggu bantuan, tetapi bisa melakukan langkah penyelamatan mandiri,” kata Agus.

Ia juga melihat pentingnya menjaga keseimbangan alam di kawasan Lembang yang masuk wilayah Kawasan Bandung Utara (KBU). Menurutnya, pengurangan alih fungsi lahan dan perlindungan hutan harus terus dilakukan untuk mencegah bencana.

“Mudah-mudahan di seluruh desa bisa dibentuk Destana, bukan hanya yang bersinggungan dengan Patahan Lembang, tapi di seluruh 165 desa di Bandung Barat. Karena bencana bisa terjadi di mana saja, kesiapsiagaan adalah kunci,” tegas Agus. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *