Mak Enur dan Keluarga Tinggal di Tenda Darurat, Setelah Kios Usahanya di Jalan Raya Lembang – Subang Dibongkar

Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Mak Enur (60), seorang ibu rumah tangga asal warga Kampung Cikawari, Desa Wangunharja, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi salah satu dari ratusan warga terdampak pembongkaran bangunan liar (bangli) di sepanjang Jalan Raya Lembang – Subang.

Setelah menempati kios selama 15 tahun, kini ia bersama sembilan anggota keluarganya harus tinggal di tenda darurat setelah pembongkaran tersebut, yang mulai berlangsung pada Jumat (08/08) lalu.

Kabarnya penertiban ini atas instruksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sebagai bagian dari program penataan kawasan jalan provinsi.

Enur bersama keluarga selama ini menggantungkan hidup dari tiga kios milik mereka. Usaha yang dijalankan antara lain menjual kopi, mie instan, nasi, bensin eceran, hingga tambal ban. Namun, seluruh kios tersebut kini sudah rata dengan tanah.

“Kami sudah 15 tahun berjualan di sini. Sekarang sudah dibongkar, kami bingung harus pindah ke mana,” kata Bu Enur saat ditemui di lokasi, Kamis (14/08).

Setelah pembongkaran, keluarga Enur mendirikan tenda darurat di bekas lokasi kios. Tenda itu menjadi tempat tinggal sementara bagi sembilan orang, termasuk dua cucunya yang masih kecil.

Selain tidak memiliki tempat tinggal, mereka juga khawatir barang-barang bekas bangunan seperti kayu dan seng diambil oleh pemulung. Namun keberadaan tenda darurat itu tidak mendapat izin berlama-lama dari petugas.

“Kami sudah diingatkan agar segera membongkar tenda dan tidak menetap di sini. Tapi kami gak tahu harus ke mana,” katanya.

Enur mengaku telah didata oleh pihak berwenang dan dijanjikan akan direlokasi bersama pedagang lainnya. Namun hingga kini, ia belum mendapatkan informasi pasti soal waktu dan lokasi relokasi tersebut.

“Katanya mau ada relokasi, tapi sampai sekarang belum jelas di mana dan kapan. Termasuk uang kompensasi, tapi belum dapat,” ucapnya.

Saat ini, keluarga Enur berencana menumpang sementara di rumah kerabat terdekat. “Paling numpang dulu ke saudara. Selain itu kami juga butuh tempat untuk berjualan lagi,” katanya.

Enur berharap pemerintah segera memberikan kejelasan soal relokasi agar mereka bisa kembali menjalankan usaha dan memiliki tempat tinggal yang layak.

“Kami tidak menolak ditertibkan, tapi tolong bantu kami juga untuk bisa melanjutkan hidup,” ujarnya.

Berdasarkan informasi, total sebanyak 978 bangunan liar yang telah dibongkar dalam penertiban tersebut. Pemerintah juga menyiapkan tiga titik relokasi bagi para pedagang terdampak. Namun belum ada kepastian kapan relokasi akan direalisasikan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *