BANDUNGSATU.COM – Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat membesut program inovatif bernama Cilame Nyanding Resik. Menurut Kepala Desa Cilame, Aas Mohamad Asor, program inovatif ini dikeluarkan setelah menggali sejumlah permasalah lingkungan. Diantaranya adalah masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.
”Kami melihat masyarakat masih membuang sampah sembarangan dan ada juga yang membuang limbah rumah tangga tidak pada tempatnya. Oleh karenanya Pemerintah Desa Cilame perlu menyadarkan masyarakat agar Desa Cilame ke depan lebih sehat, lebih ramah, lebih nyaman,” kata Aas.
”Selain itu kami juga melihat adanya penurunan semangat gotong royong. Ada juga perubahan mindset gotong royong itu hanya berupa iuran finansial,” imbuh Aas.
Dengan Program Cilame Nyanding Resik tersebut, kata Aas, diharapkan masyarakat akan kembali peduli pada kegiatan gotong royong.
”Pemerintah Desa sudah membentuk tim penataan desa. Tim ini yang mengatur segala kegiatan dan juga memberikan edukasi tentang pemahaman kebersihan, kegotong royongan dan teknis pengelolaan lingkungan termasuk pengelolaan sampah,” ujarnya.
Tim tersebut telah membuat kelompok yang akan mendampingi kegiatan gotong royong atau kerja bakti kebersihan lingkungan dengan jadwal yang akan bergulir melibatkan semua RW yang ada di Desa Cilame.
”Untuk menopang kegiatan ini, Pemerintah Desa membuat mesin insenerator yang saat ini sedang diujicoba. Jika in berhasil, efektif, maka setiap RW akan diberi satu unit. Selain itu Desa juga sudah membuat sample biopori untuk mengolah sampah organik,” kata Aas.
Launching Program Cilame Nyanding Resik tersebut telah digelar pada Minggu (03/08) dan diresmikan oleh oleh Camat Ngamprah Agnes Virganty dengan penyerahan secara simbolis pipa biopori pada sejumlah Ketua RW.
”Limbah yang ada di Desa Cilame umumnya limbah rumah tangga terdiri dari sampah organik, unorganik dan residu. Untuk sampah unorganik diharapkan seyiap rumah sudah melakukan pemilahan, sementara sampah organiknya dijadikan pupuk melalui biopori sampah organik,” jelas Aas.
Sementara itu untuk sampah residu akan diolah dengan insenerator. Untuk sampah unorganik juga akan dikelola oleh Bank Sampah.
Untuk mensukseskan program tersebut, Pemerintah Desa Cilame telah membuat Satgas Persampahan yang bertugas memberikan edukasi dan melaksanakan pengelolaan sampah di Desa Cilame.
”Satgas Persampahan ini menjadi komponen yang memberikan edukasi, sosialisasi tentang pengelolaan sampah dan aturan-aturan. Sekaligus penegakan aturan dimana Desa Cilame akan mengeluarkan Perdes soal pengelolaan sampah,” tegasnya.
Aas juga mengatakan bahwa insenerator yang dibuat merupakan produksi warga Desa Cilame dengan target pemusnahan sampah 500 Kg perharinya. (*)






