BANDUNGSATU.COM – Tembok penahan tanah (TPT) setinggi 10 meter di lahan Observatorium Geofisika BMKG di Kampung Pencut Rt 02 Rw 07, Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat roboh imbas pergerakan tanah, pukul 03.15 WIB , Jumat (16/05).
Robohan material TPT dan tanah menimpa 3 rumah warga. 15 warga dari 3 rumah tersebut, rusak berat dan ringan. Dan 1 sapi milik Ketua Rt 02, Asep Firman, yang ikut terdampak, juga menjadi korban.
”3 rumah ini terdiri dari masing-masing 5 anggota keluarga, sehingga jumlah jiwa yang terdampak longsor ada 15 orang,” kata Asep Sabtu petang (18/05)/
Asep mengatakan warga sebenarnya sudah lama khawatir dengan keberadaan TPT yang berdiri disamping gang yang memisahkan antara gedung BMKG dan rumah warga. TPT tersebut dibangun dengan pondasi yang tidak baik.
”Jadi pondasinya ngegantung. Tanahnya gak di gali lagi melainkan langsung dibuat sejajar dengan permukaan gang yang melintas di belakang Gedung Observatorium Geofisika BMKG,” ungkap Asep.
Seorang warga yang rumahnya terdampak cukup parah, Unan mengatakan, terlepas dari bencana, longsor tersebut adalah kelalaian manusia, karena konstruksi pondasinya yang tidak baik.
”pondasinya itu ngegantung sehingga pergerakan tanah bisa merusakan benteng ini,” kata Unan.
”Sebaiknya pemerintah atau BMKG menaruh perhatian karena ini urgent. Yang rugi rumah warga, termasuk saya. Apalagi bentengnya memang dibuat tidak bagus. Terlepas dari musibah, ini adalah kesalahan manusia, karena TPT yang dibuat tidak baik sehingga jebol saat terjadi pegerakan tanah,” jelas Asep.
Sementara itu, warga lainnya, Noneng, mengaku bahwa sebelumnya (Kamis Malam) hujan deras terus menerus mengguyur Lembang. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya bahwa TPT akan rubuh. Dan tiba-tiba pada pukul 03.15 WIB, benteng roboh dan menimpa 3 rumah warga.
”Gak ada tanda-tanda sebelumnya. Meskipun memang malamnya hujan deras mengguyur kampung kami. Jam 03.15, Jumat pagi, benteng BMKG roboh. Untung tidak ada yang terluka, meski rumah kami rusak,” kata Noneng yang rumah panggungnya bergeser 70 cm imbas kejadian tersebut.
Para korban terdampak menuturkan, mereka kecewa dengan penanganan BMKG yang lebih mementingkan bentengnya ketimbang melakukan penanganan terhadap warga yang terdampak.
”Pak Edi dari BMKG bilang bahwa penangan rumah warga yang terdampak akan didiskusikan dulu dengan atasan. Padahal kan ini urgent. Kami membutuhkan penanganan,” kata Neni, warga yang rumahnya ikut terdampak.
Ia mengungkapkan meski sudah ditinjau pihak Desa, BPBD dan Camat, namun sampai berita ini diturunkan belum ada solusi riil bagi korban terdampak. Ia bahkan mengatakan bahwa 15 jiwa terdampak diungsikan atas inisitif warga setempat.
Para korban mengaku, BMKG pun baru akan meminta petunjuk atasanya pada Senin (19/05) untuk bisa memberikan solusi riil pada para korban terdampak robohnya benteng tersebut. (*)






