Relawan HADE, Misbah Peduli Terhadap ODGJ Prihatin Keadaan Penderita Penyakit Jiwa di KBB Membutuhkan Uluran Tangan dari Semua Pihak

Foto/Istimewa

BANDUNGSATU.COM – Relawan Haedar Alwi Care, Sahabat Misbah Peduli ODGJ, yang juga Relawan Paslon HADE, telah lama berkiprah membantu penanganan ODGJ di jalanan. Hal itu dilakukan Misbah, berawal dari keprihatinannya melihat ODGJ yang kalau pun masih ada keluarganya, namun mereka sering diterlantarkan.

Misbah sendiri mengaku bahwa kepeduliannya tersebut mendapat respon baik dari masyarakat, namun demikian belum ada bantuan riil dari Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat.

”Padahal pasien yang terlantar di jalanan juga saya bantu, termasuk pasien-pasien pengaduan warga dan keluarganya,” kata Misbah.

”Saya alhmdulilah untuk makannya juga aman. Sayangnya gak ada yang merhatikan dari Dinsos KBB padahal saya sempet bicara, tapi mungkin karena belum punya yayasan jadi gak bisa terkordinir,”  imbuhnya.

Meski demikian ia mengaku bahwa keluarga pasien banyak yang memberikan apresiasi pada apa yang ia lakukan.

Tanpa merinci penanganan yang ia lakukan, namun Misbah mengaku sejumlah pasien juga sudah ada yang hidup normal dan kembali menjalani keseharianya bersama keluarga.

”Ya alhamdulillah, ternyata apresiasi warga yang dibantu cukup baik. Apalgi banyak juga yang sudah kembali dan menjalani kehidupan bersama keluarganya. Tadinya mereka menerlantarkan, tapi kami juga edukasi agar para ODGJ ini diperhatikan, supaya mereka tidak sering kambuh,” jelas Misbah.

Misbah juga mengakau dari puluhan ODGJ yang ia bantu, beberapa diantaranya, mereka yang memiliki karakteristik tertentu, ia titipkan perawatannya di RSJ Cisarua.

Seperti pada kasus Enung (36) warga Rancapanggung yang sempat dipasung, atas koordinasinya dengan pihak keluarga dan kewilayahan, ia bisa dibawa ke RSJ Cisarua.

”Ada karakteristik tertentu yang tingkat emosinya cukup tinggi, kami titipkan dulu di RSJ Cisarua. Seperti Enung, kemarin, menurut keluarga ia sering ngamuk, sehingga ia dipasung di dekat rumahnya,” ungkap Misbah.

Misbah turun sendiri ke lapangan ketika ada informasi pemasungan. Itu sudah sering ia lakukan saat menerima laporan soal kondisi ODGJ yang dianggap mengganggu warga atau keluarga.

Ia kemudian melakukan asesmen dan kemudian memutuskan apakah akan merawat atau menitipkan dulu di Rumah Sakit Jiwa.

Enung (36) warga Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat yang sebelumnya diberitakan dipasung, Rabu (20/11) telah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Cisarua, oleh Relawan HADE, Sahabat Misbah Peduli ODGJ.

Diantar oleh anggota relawan, Ade BX dan Ira Octavia beserta keluarga, Enung tampak tenang dan sangat kooperatif saat dievakuasi dari tempat pemasungannya ke RSJ Cisarua.

”Tadi saya bicara sama pihak RSJ setelah masuk ruang IGD, kondisi pasien tidak berontak karena Sudah disuntik dan dikasih obat,” kata Ade BX dan Ira Octavia anggota tim Relawan HADE.

Ia menambahkan bahwa sesaat setelah sampai di RSJ, Enung dimasukan ke ruangan Camar (ruangan isolasi). Di ruang tersebut Enung tinggal sendiri selama pengontrolan emosinya.

Ia juga mengatakan, Enung djemput timnya pada sore hari. Saat dibawa menuju kendaraan dari rumah Enung yang berjarak 400 meter dari jalan raya enung bereaksi dengan baik.

Tim tiba di RSJ Cisarua pada pukul 17.00 WIB. Setelah observasi tim dokter, Enung masuk kamar isolasi pada pukul 21.30.

”Dalam proses evakuasi tersebut enung ditemani dua orang kakaknya,” kata anggota tim Relawan HADE.

”Dari mulai pembukaan pasung (rantai) saudari Enung, sampai pencarian ambulance ditangani oleh tim Relawan Hengki-Ade dan semua Alhamdulillah berjalan dengan lancar,” imbuhnya.

Dari video yang dikirimkan tim pada Bandungsatu.com, Enung tampak tenang. Ia pun di dalam kamar isolasi terlihat merasa nyaman. Enung pun tampak meringkuk untuk bersiap istirahat di ruang tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang perempuan, Enung Supriatin (36), warga Kp. Pasir Panjang RT 007, RW 02 Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, telah lama harus hidup dalam pasungan dan dikerangkeng bambu, karena keluarga tidak sanggup merawat.

Enung sehari hari tinggal dalam sebuah ruangan berdinding bambu. Ia terduduk dalam pasungan dalam bale-bale yang terbuat dari bambu. Keluarga mengaku bukan tak mau memberi alas yang layak, semisal matras atau kasur. Karena sering dirusak, oleh karenanya Enung dibiarkan berada di bale-bale tanpa alas apapun.

Dari penuturan warga sekitar, Enung menderita gangguan jiwa sejak tujuh tahun lalu. Kondisi pemasungan baru berjalan tiga tahun, semenjak perempuan kelahiran tahun 1988 itu sering tidak terkontrol emosinya.

Warga juga mengatakan bahwa pihak keluarga pernah menitipkan pada Rumah Sakit Jiwa, namun entah kenapa Enung kembali ke rumah, bersama ibunya, Erah, yang sudah berusia lanjut.

Erah diakui warga merawat putrinya sendirian. Suaminya, Emuk Aim, telah lama meninggal dunia.

Mendapat laporan warga, Relawan Sahabat Misbah untuk ODGJ, Haji Misbah, akan memberikan bantuan untuk perawatan yang layak pada Enung. Hal itu disampaikan Misbah, Selasa (19/11).

Misbah sebenarnya akan mengevakuasi korban Selasa sore, namun karena cuaca tidak mendukung, maka upaya evakuasi akan dilakukan hari ini, Rabu (20/11). (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *