BANDUNGSATU.COM – Lembaga Survei INDIKATOR mengeluarkan hasil survei popularitas dan elektabilitas Paslon Bupati Bandung Barat dan Wakil Bupati KBB, Hengki Kurniawan – Ade Sudrajat masih tinggi dengan raih angka 57,8 persen, Sabtu (19/10)
Sementara itu berdasarkan Media Survei Nasional (Median) persaingan di antara tiga paslon yang berkompetisi pada Pilbup Bandung Barat, berlangsung ketat.
“Berdasarkan survei yang kami lakukan, tingkat elektabilitas tiga pasangan calon (paslon) teratas, masih cukup ketat,” kata peneliti Median, Ade Irfan kepada wartawan, Rabu (16/10).
Perbedaan elektabilitas antara Paslon Hengki Kurniawan-Ade Sudrajat, Didik Agus Triwiyono-Gilang Dirga, dan Jeje Rithie Ismail-Asep Ismail, berada di angka tipis. Bahkan, menurut Ade, jarak ketiganya di bawah margin of error 3,39 persen. Dengan begitu, proses persaingan sulit diprediksi siapa yang bakal unggul.
“Elektabilitas Hengki Kurniawan-Ade Sudrajat Usman tercatat 24,6 persen, disusul Didik Agus Triwiyono-Gilang Dirga Dirgahari 22,5 persen, dan Jeje Rithie Ismail-Asep Ismail 20,4 persen. Dengan margin of error 3,39 persen, secara ril sulit menentukan siapa yang mutlak unggul,” kata Ade.
Ada selisih perbedaan cukup banyak antara survei yang dilakukan oleh Median dan Indikator. Namun demikian Hengki Kurniawan sendiri mengaku survei dari sejumlah lembaga survei yang masuk dalam 10 besar lembaga survei di Indonesia, telah menempatkan Paslon HADE (Hengki Kurniawan – Ade Sudrajat) di posisi angka sebesar 57,8 persen yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Lembaga Survei INDIKATOR.
“Alhamdulillah per hari ini survei Pasangan HADE, Hengki – Ade, 57,8%. Kita unggul di semua lembaga survei. Baik di survei internal maupun survei di ‘toko sebelah,’ jadi ini harus kita syukuri tapi jangan kita jumawa,” kata Hengki.
“mengingat waktu masih ada, sekitar 39 – 40 hari dan pasti yang lainya juga bekerja keras bagaimana, dalam kontestasi ini merebut masyarakat, oleh sebab itu saya mengingatkan, mengajak kepada seluruh kader, kepada seluruh relawan untuk bekerja keras door to door mensosialisasikan Pasangan HADE, nomor tiga,” imbuh Hengki.
Sementara itu Ketua Puskapol Ekbang (Pusat Kajian Politik Ekonomi Pembangunan) Holid Nurjamil mengatakan semenjak dimulainya masa kampanye tanggal 25 September, semua pasangan calon sudah mulai melakukan sosialisasi baik melalui pemasangan APK, blusukan dan lain sebagainya, tujuannya supaya popularitas dan elektabilitasnya menjadi naik.
Holid mengatakan, karena dalam politik demokrasi, seseorang dengan elektabilitas serta popularitas tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk menang.
“Mengapa demikian?, Seseorang atau pasangan calon dengan elektabilitas tinggi artinya tingkat keterpilihannya oleh masyarakat juga tinggi. kondisi demikian tidak akan berguna jika ia tidak memiliki popularitas,” jelas Holid.
“Karenanya, ia juga memerlukan popularitas tinggi. Singkat kata, tingkat elektabilitas dan popularitas tinggi dari seseorang atau pasangan calon akan membuatnya dengan mudah memenangkan hati masyarakat dan dengannya pula memenangkan Pilkada KBB,” imbuh Holid.
Holid juga mengatakan, bahwa dengan waktu tinggal 50 hari menjelang pencoblosan, dengan melihat data survei terakhir di mana tingkat popularitas calon Bupati masih bervariatif, HK sebagai calon petahana memiliki tingkat popularitas yang paling tinggi diatas 90%, sedangkan pasangannya Ade Sudrajat masih dibawah 5%. Kondisi ini menjadikan pasangan HADE memiliki tingkat elektabilitas yang paling tinggi.
Sedangkan calon-calon yang lain, kata Holid, tingkat popularitasnya masih dibawah 60%. Artinya harus menggunakan strategi politik ofensif (memasifkan sosialisasi).
“Jika kita petakan semua Calon yang diusung oleh koalisi partai politik masih memiliki kesempatan untuk memenangkan pilkada pada 27 November. Kalo kita baca lagi di hasil survei, walaupun pasangan HADE memiliki tingkat elektabilitas tertinggi, tapi 40% masih memungkinkan untuk berubah jika ada isu atau sesuatu mempengaruhinya,” ungkap Holid.
Holid juga mengatakan, begitu juga dengan yang belum menentukan pilihannya masih ada sekitar 16%. Jika dikonversikan secara keseluruhan masih sekitar 44% yang akan benar2 menentukan pilihan seminggu menjelang pencoblosan.
“Berikutnya adalah memiliki dukungan sumber dana kampanye yang kuat, jika didukung anggaran yang mumpuni maka pasangan calon tersebut akan dapat melaksanakan semua program kegiatannya yang dapat meningkatkan elektabilitas nya dengan cepat,” jelas Holid.
Menurut Holid, dalam analisis SWOT untuk memenangkan Pilkada di KBB yang begitu luas, memiliki 165 Desa dengan jumlah DPT di atas 1,35 juta, tidak cukup hanya mengandalkan figur dan ketokohan calon saja.
Namun, perlu didukung oleh kekuatan mesin politik yang kuat (tim pemenangan dan relawan) yang memiliki infrastruktur sampai tingkat grassroot, karena merekalah yang menggerakkan dan mengimplementasikan strategi politik pasangan calon.
“Perubahan kepemimpinan nasional pasca pelantikan presiden dan pembentukan kabinet juga diprediksi akan berdampak pada perubahan konstelasi politik di daerah terkait kepentingan elit di nasional dan kepentingan politik di KBB,” kata Holid.
Ia juga menambahkan, begitu juga tingkat toleransi terhadap money politik di KBB termasuk tinggi, di angka 60 %. Artinya ini bentuk ancaman demokrasi yang juga bisa mengubah peta kemenangan. (*)






